Sunday, December 11, 2011

Revitalisasi . . . .

Revitalisasi Pusat Informasi :

Penyediaan Informasi Berkualitas Menuju Indonesia Baru

Catatan Kecil Kiprah Dewan Perwakilan Daerah RI Ideal ã

“dan bahkan firman Tuhan-pun disebut buku” ...[Kuntowidjoyo]

Pendahuluan

Pengaruh spiritualitas[1] kembali menjadi wacana untuk menjawab problematika sosial masyarakat. Abad ini telah identik dengan jaman teknologi dan inovasi. Teknologi dan spiritualitas keduanya dapat dilihat dan dianalisa sebagai sesuatu yang bersesuaian, dan juga bisa bertolak belakang. Dengan teknologi, manusia mampu membangun gedung-gedung, peralatan yang dapat memudahkan manusia untuk hidup, berpindah dan berekreasi. Di sisi lain, data-data terbaru menjelaskan kondisi hutan, laut, sungai telah rusak atau cuaca ekstrim yang tidak bersahabat.

Pusat-pusat informasi merupakan hasil karsa manusia. Pusat Informasi menjadi tanda abad modern. Berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil karya manusia bersifat non-profit. Pusat Informasi melayani pemakai, dengan kegiatan utama pengadaan, pengolahan dan layanan sirkulasi. Masyarakat secara luas belum merasakan manfaat langsung dari keberadaan perpustakaan, museum, dan gedung-gedung arsip. Kemiskinan dan pengangguran masih terbilang tinggi, akses kepada pendidikan terbilang mahal dan belum merata. Kondisi kurang beruntung akhirnya berujung pada meningkatnya penyakit sosial. Masyarakat menjadi mudah apatis kepada pemimpinnya. Sementara itu orang terdidiknya menjadi semacam ‘pertapa’ yang mengasingkan diri, sehingga menjadi keyakinan umum bahwa semua cuma teori, berbeda dengan realita. Uniknya teori-teori ilmiah tersebut terdapat dalam buku-buku yang menjadi sumber dokumen pusat informasi..

Tidak bisa diabaikan bahwa kesadaran kita sebagai satu bangsa, dan satu golongan manusia, tidak dapat tumbuh dan hidup secara terpisah. Pusat Informasi bagaimanapun keadaannya adalah anugerah. Jika belum baik, maka menjadi kewajiban kita dan siapapun anda untuk membantu dan memberdayakan sarana kultural tersebut. Kesadaran ini mesti dibangun oleh pemerintah secara nasional. Spirit untuk menjadi masyarakat bermartabat dapat disampaikan oleh pemerintah melalui sinergi beberapa kementeriannya. Tanpa disadari pusat informasi dan dokumentasi adalah kekuatan tersembunyi yang belum dioptimalkan. Lembaga-lembaga informasi dengan kekayaan koleksinya dapat dijadikan spirit perubahan Indonesia, dan kekayaan koleksinya dapat dimanfaatkan secara luas (massive) baik lokal maupun untuk daerah lainnya (antar provinsi) secara berjejaring, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan : Keadaan Sosial Budaya

Pusat informasi merupakan rumah pengetahuan, terkandung suatu sistem nilai.* Pusat Informasi mempunyai nilai-nilai luhur untuk memajukan bangsa. Kemajuan suatu bangsa dipikul oleh sumber daya manusia yang tidak cukup bermodal kejujuran, tetapi juga unggul kecakapan-intelektual dari pendidikannya. Dengan pendidikan diharapkan seseorang dapat lebih kreatif dan inovatif. Manusia unggul juga mesti memiliki kecerdasan spiritual. Dengan nilai-nilai spiritual diharapkan seseorang menjadi terkontrol emosinya, berjiwa sosial, menjadikan hidup sebagai ibadah. Manifestasi lain dari penjabaran nilai-nilai spiritual; upaya menjadikan seseorang peduli sesama, peduli lingkungan karena seluruh yang ada dimuka bumi merupakan titipan Tuhan, dan menjadi tanggung jawab bersama tanpa kecuali untuk ikut peduli melestarikan alam. Nilai-nilai spritualitas juga akan membawa manusia Indonesia menghargai prulalitas dalam masyarakat Indonesia.

Pendidikan yang baik memerlukan banyak faktor, siswa-siswi perlu nutrisi-otak dari bacaan yang berkualitas. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, mengalami problema dalam penyediaan fasilitas pendidikan. Keadaan wilayah negara yang terpisah-pisah, penduduk yang banyak dan kondisi sosial budaya yang beraneka ragam. Kondisi finansial masih belum mendukung dalam hal penyediaan kebutuhan buku, gedung-gedung perpustakaan, pusat-pusat informasi dapat bertambah, tersebar merata di seluruh daerah dan kepulaun di Indonesia. Perpustakaan, dan pusat-pusat informasi merupakan sarana untuk memenuhi hak warga negara mendapat ilmu dan pengetahuan yang dijamin oleh undang-undang.

Pengetahuan (knowledge) dibedakan dengan ilmu pengetahuan (science). Pengetahuan lebih luas dan memberi inspirasi bagi kaidah keilmuan. Pengetahuan dapat diartikan sebagai kondisi tahu, dan mengetahui akan sesuatu. Mengetahui dibentuk oleh pengalaman. Pengalaman seseorang akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Pengetahuan petani dan nelayan akan berbeda, begitu juga terhadap profesi lainnya. Kebudayaan akan membuat perbedaan pengetahuan makin melebar antara individu, kelompok dan bangsa. Namun yang pasti setiap orang memiliki pengetahuan dalam kadar tertentu. Keluasan pengetahuan seseorang akan ditentukan dengan interaksi antar kelompok. Teori pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebenarnya universal dan dapat dilakukan oleh masyarakat dan bangsa manapun. Gambaran sederhana mengenai pengetahuan dapat dilihat pada tabel di bawah.

Subject of Knowledge

Knowledge Description

Science

Approaches

theoretical causes and principle

I know why the litmus- paper turn red

Natural science; chemist

Rational-Empiric

special skill

I know how to drive a car

Applied science

Rational-Empiric

scientific fact

I know that Paris is the capital city of France

Social science : Sociology, Geography etc.

Rational-Empiric

state of mind

I know what it is to be hungry and poor

Social Science : Psychology, economy

Natural science ; biology

Rational-Empiric

Tabel : Bentuk Pengetahuan (Knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science). Adaptasi dari buku Mc Garry, Kevin. The Changing Context of Information [1993] hal 1. Dari tabel ini Nampak pengetahuan ‘Barat’ yang bersifat duniawi, perlu ditambahkan pengetahuan kepada spirtiualitas dengan pernyataan I Know why God created the Universe. Dengan pernyataan ini menunjukkan bahwa kehidupan alam semesta ada yang meciptakan, dan kita menjadi wajib memelihara dan tunduk kepada aturan pencipta.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan. Asal muasal dari ilmu adalah pengetahuan yang berlangsung, dapat diamati dan dapat ditarik kesimpulan sehingga menjadi bukti ilmiah. Pusat-pusat dokumentasi dan informasi dapat mengembangkan koleksi apa yang akan diadakannya. Keilmuan yang bagaimanakah yang akan disuplai kepada masyarakat Indonesia. Di Indonesia, sepertinya pengetahuan masih mengambil posisi teratas dalam pengambilan keputusan, terutama bagi masyarakat awam (grass root). Contoh kasus pada peristiwa Erupsi Gunung Merapi (2010), penduduk ‘terbelah’ mengikuti pendapat wangsit (pengalaman batiniah) ketimbang percaya kepada ahli vulkanologi.

Fenomena ini adalah 'puncak gunung es', masyarakat mesti dikembalikan lagi kesadaran intelektualnya, banyak contoh lainnya dari masalah sepele, mulai dari masyarakat yang buang sampah sembarangan, larangan merokok yang malah tidak mampu mengurangi populasi perokok aktif, hingga pejabat negara yang melakukan korupsi berjamaah dari semua level dan tingkatan padahal lembaga resmi telah dibentuk (KPK, Satgas Mafia Hukum, dsb) ditambah lagi beratnya sangsi hukum. Aspek yang tidak kalah penting yaitu: internalisasi keilmuan yang belum maksimal, belum dicerna secara baik. Masyarakat kita seakan memainkan dua peranan (hipokrit) menerima ilmu dan tata aturan baku, untuk kemudian dilanggar dan dilupakan. Masalah internalisasi keilmuan tentu akan berkenaan dengan kaidah bahasa dan kalimat yang digunakan. Kita mesti memikirkan ulang dan memberi tempat yang luas terhadap nilai-nilai spiritual untuk lebih melunakkan sikap dan kelakuan buruk manusia Indonesia. Nilai-nilai ini telah mengalami degradasi dalam sanubari penerus bangsa kita.

Jika ditilik lewat sejarah fungsi agama di Barat (Eropa-Amerika) coba dimarjinalkan dari kehidupan publik. Spiritualitas dengan bahasa lain merupakan mutiara dari ajaran agama-agama. Sebagai bangsa yang mengakui adanya Tuhan (termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila), sudah semestinya negara ini menjadi pelopor untuk kembali mendengungkan tema-tema spiritual. Pendekatan spiritulitas-keagamaan dapat dijadikan ciri khas bagi setiap teori. Kerusakan di muka bumi ini telah berlangsung dan menghasilkan residu yang tidak akan mudah direhabilitasi, termasuk juga terhadap mental manusianya. Tema-tema spiritual ini bisa diupayakan berkelindan dengan ilmu dan pengetahuan, sehingga menghasilkan manusia yang seimbang antara otak dan nuraninya.

Pusat Informasi dan Masyarakat : Aplikasi Perpustakaan Sebagai ‘Life Long Education’

Dahulu ketika manusia belum mengenal apa itu tulisan, dengan segenap usahanya memungut berkah alam, menuliskan aktifitasnya di dinding gua, atau pada medium dedaunan, tulang belulang dan kulit binatang. Sejarah kemudian mencatatkan prestasi gemilang anak manusia, ketika telah ditemukannya kertas. Kesadaran terhadap amanah ilmiah semakin tumbuh sehingga artefak tersebut kemudian disimpan, disalin hingga menjadi media yang dikenal sebagai perpustakaan, museum dan lembaga infomarsi lainnya.

Saat ini tidak semua orang beruntung mendapatkan buku, persoalannya harga buku tidak murah. Orang membaca dan menjadi keranjingan terhadap sumber bacaan bisa saja terjadi, namun akan berbeda dengan kemampuan daya beli. Masyarakat yang masih lapar (pra-sejahtera) amat logis jika hanya memenuhi kebutuhan perut. Buku-buku juga semakin tak terjamah masyarakat miskin, karena letaknya di sekolah-sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Akses memperoleh pendidikan juga butuh perjuangan, karena mesti mengeluarkan biaya besar. Perpustakaan sebagai salah satu pusat dokumentasi dan informasi melalui instansi sejawat yaitu perpustakaan umum, dapat menyediakan koleksi yang memungkinkan masyarakat belajar secara otodidak. Masyarakat dapat disediakan bacaan bertema wirausaha untuk mengembangkan ide-ide usaha. Tidak hanya itu pada momen tertentu dapat membuat acara diskusi secara berkelanjutan dengan menghadirkan pembicara dan pendapingan dari kalangan entrepreneur.

Khusus mengenai kearifan lokal yang dapat disumbangkan sebagai pemikiran yaitu melibatkan kekuatan-kekuatan pemerintah dalam bidang teknologi-informasi, pendidikan-kebudayaan untuk merubah pola berpikir (mind-setting) masyarakat terhadap alam, dan relasi antar umat manusia. Sebagai masyarakat religius, pemikiran ilmiah tidak hanya berdasarkan rasional-empirik saja, akan tetapi rasional-empirik teistik. Pemikiran teistik sejatinya merupakan ciri khas bangsa kita. Hedonisme dan paham sukses instan adalah sesuatu yang salah, akibatnya banyak orang --terutama kalangan muda-- yang pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan dan kekayaan.

Perpustakaan sebagai tempat menyimpan dokumen karena alasan finansial kadang tidak dapat difasilitasi kelengkapannya ini terjadi di sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Sedangkan di perguruan tinggi, nasib perpustakaan umumnya lebih baik saat ini, meliputi ruangan dan koleksi . Kesenjangan informasi ini perlu dijembatani, temuan ilmiah tepat guna dapat terinformasikan kepada masyarakat luas. Temuan ilmiah dari para mahasiswa dan dosen dapat disebarkan melalui perpustakaan umum atau perputakaan khusus. Atau sebaliknya masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan dan pusat informasi untuk bertanya dan usul, pertanyaan tersebut dapat dijadikan bank data, dan persoalan tersebut dikembalikan untuk dikaji oleh kalangan terdidik di perpguruan tinggi. Dengan cara demikian masyarakat tidak kesulitan mendapat sumber bacaan untuk belajar dan pengembangan diri, serta pemecahan masalah (problem solving).

Kebijakan ini memang tidak mudah, dan menjadi pekerjaan yang mesti segera dimulai. Pemerintahan daerah didorong semaksimal mungkin membangun pusat informasi seperti perpustakaan di sekolah-sekolah, atau memaksimalkan perpustakaan umum daerah masing-masing. Keterlibatan kekuatan-kekuatan sumber daya informasi milik negara harus terus dilakukan. Untuk pemerataan informasi berbantuan internet saat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan di daerah. Pemerintah dalam hal ini kementerian informasi dan komunikasi, PDII-LIPI (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Perpustakaan Nasional dan Kemendikbud bertanggung jawab untuk bersinergi dalam penyediaan teknologi informasi yang murah dan terjangkau masyarakat, karena informasi sudah berbagai bentuk, tidak hanya tercetak saja. Hal ini menjadi fokus bagi anggota DPD RI untuk terlaksanya sinergi kekuatan-kekuatan informasi di Indonesia.

ã Oleh : M.Sukron artikel untuk Sayembara “Andai Saya Menjadi Seorang Anggota DPD RI tahun 2011

[1] Spiritualitas tidak dapat berdiri tegak di atas sokongan iman, muara keimanan adalah selalu memberikan yang terbaik kepada umat manusia melintas batas. Pemikiran ini dikarenakan bahwa manusia sebagai partner alam dan sebaliknya. Keburukan yang diberi kepada alam akan dibalas dengan kesulitan dan nestapa bagi umat manusia. Global warming (pemanasan global), lumpur lapindo di Surabaya, lapisan ozon yang robek, bencana Chernobyl di Rusia adalah residu dari pembangunan berbasis teknologi yang salah kaprah. Lihat pembahasan pendekatan ilmiah dalam: Cecep Sumarna. Rekonstruksi Ilmu.. Bandung : Benang Merah Press, 2005. Keilmuan fisika, dalam fisika quantum memberikan dalil baru bahwa dunia fisika terdeviasi seolah menjadi metafisika. Metafisika menunjukkan kepada keadaan yang serba tidak dapat diprediksi tidak dapat dihitung dan diperkirakan secara matematika. Dari sini kembali manusia dihadapkan kepada sesuatu yang mutlak, yang maha kuasa, yang mengatur alam semesta. Lihat : Wospakrik, Hans J. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta : KPG 2005 hal.172.

* Sama halnya dengan demokrasi, paham demokrasi menjamin orang bebas berbicara (freedom of speak), berkeyakinan (freedom of choice in religion), dan kebebasan berbuat (freedom of act). Demokrasi telah dilaksanakan dengan penyesuaian ala Indonesia. Prosesi pemilihan umum (Pemilu) pemilihan kepala daerah (pilkada) yang masih belum mentaati aturan demokrasi, untuk fair dalam berkampanye, untuk siap kalah dan tidak anarkis, dan mau mengakui kemenangan pihak lain. Masih banyak contoh lain yang diperlukan kedewasaan dalam belajar berdemokrasi. Begitu pula dengan mengerti dan memahami fungsi Pusat Informasiuntuk mencerdaskan bangsa. Pusat Informasididirikan (sesuai jenisnya) untuk digunakan oleh setiap warga negara tanpa memandang status sosial, jabatan, agama, dan ras. Ketika sesorang membaca memerlukan situasi yang kondusif dan kudus, kewajiban pemustaka untuk saling menghormati privasi orang lain.

Tuesday, September 13, 2011

Senjakala Ekonomi Riba

.. ikan-ikan di gelas berair keruh itupun damai, kecuali

salah satu darinya dengan susah payah, berhasil melompat

ke dalam gelas di sebelahnya yang berair jernih

kalimat penutup dari seorang Ustadz: “berhijrahlah kepada yang halal”

(Sebuah iklan)

Judul diatas bukan untuk menikam ekonomi konvensional yang telah berurat dan berakar diseluruh penjuru dunia. Judul ini untuk menegaskan bahwa, karena manusia disebut homo economicus, maka ekonomi ada dan melekat dalam kehidupan manusia. Bagi anda yang ingin berhijrah kepada ekonomi syariah, tidak harus bersusah payah seperti gambaran iklan tersebut. Kini bank syariah telah menjamur, anda dapat memilih dan menentukan merk bank yang anda sukai. Meskipun demikian masih banyak dari saudara-saudara kita yang masih enggan untuk melakukan hijrah menggunakan produk syariah.

Penulis melihat kondisi ini adalah wajar adanya. Ekonomi konvensional sudah sangat lama keberadaannya. Bank dengan label syariah, hanya dipahami sebagai nama bank saja. Seperti halnya bank konvensional yang terserak-serak itu. Orang juga masih menganggap bahwa bank syariah tidak berbeda, yang lebih sinis malah menganggap bahwa bank syariah hanya untuk menggaet kalangan tertentu saja, dalam hal ini konsumen muslim. Padahal konsep bagi hasil berbeda dengan konsep ribawi, anggapan demikian terjadi karena kecurigaan pada bank syariah masih menggunakan persentase , tidak lain adalah bunga, atau ada pula yang menyebut; masih ada bunganya tetapi lebih kecil dari rata-rata bank lain.

Salah kaprah ini akhirnya mengantarkan orang untuk tetap menggunakan jasa bank konvensional. Bank-bank ternama dan bank milik pemerintah yang mapan dan terjamin mendapat trust yang tinggi. Mereka juga masih memakai konsep umum yaitu konsep darurat. Konsep darurat adalah tetap menggunakan bank konvensional, dengan catatan tidak menggunakan riba/bunga untuk dimakan, melainkan dialihkan fungsikan. Konsep yang diambil dari kaidah fikih, bunga bank tersebut dimanfaatkan untuk fasilitas umum; membuat jamban, membuat jalan lingkungan dan sebagainya, intinya menghindari untuk dikonsumsi.

Bagi anda yang ingin memulai menggunakan jasa bank syariah, dapat melihat beberapa pandangan yang dianut oleh ekonomi syariah :

1. Menjauhi riba (bunga)

Semua syariat menurut pakar Ekonomi Islam Syafi’i Antonio baik Islam dan agama samawi lainnya telah menyatakan keharaman riba, namun pada perjalananya karena agama tidak diperkenankan untuk masuk kedalam wilayah sosial (seperti di Barat) maka hukum syariat itupun ditanggalkan. Ekonomi riba mendapat tempatnya dan tumbuh subur hingga kini. Pada mulanya orang memenuhi kebutuhannya dengan memungut berkah alam, hewan dan tetumbuhan dapat diambil secara gratis (masa ekstra aktif). Tidak ada yang memonopoli, karena saat itu orang dapat mengambil secara cuma-cuma dengan berburu, menjaring atau memancing.

Masa perubahan terjadi terus menerus, seiring bertambahnya ilmu pengetahuan manusia. Individu-individu dapat mendomestifikasi, memelihara hewan dan tumbuhan agar tak perlu sasah-susah dalam memenuhi kebutuhan konsumsinya. Faktor geografis dan alam turut menentukan corak dari aktifitas individu dan masyarakat. Mereka ada yang disebut nelayan, petani dan peternak. Untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda, diantara mereka saling tukar kebutuhan (barter), atau melakukan transaksi jual-beli menggunakan uang.

Dan sebagai landasan hukum bagi kita umat muslim; yang menjadi patokan adalah jual-beli sebagai sesuatu yang halal dan riba sebagai sesuatu yang haram (wa ahallahu al-bay’a wa harrama ar-riba : QS:2:275)

2. Menggerakkan Usaha

Ekonomi pada dasarnya adalah menciptakan usaha, melakukan kerja untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada masa berlimpah, ada kalanya juga masa paceklik dari usaha manusia. Hal ini merupakan aturan alamiah, sehingga individu memikirkan untuk menyimpan kebutuhan. Jika tidak terpenuhi, kebutuhan bisa didapat dengan cara meminjam. Kelebihan pinjaman adakalanya menyertai proses dalam pinjam meminjam ini.

Rente istilah populer di masyarakat umum, adalah nilai kelebihan yang mesti ikut ditanggung sebagai syarat peminjaman. Syariat sebenarnya memiliki jalan keluar, disebut dengan istilah mudharabah. Ada yang memberi modal, ada yang menjalani usaha/kerja, sehingga bisa dihasilkan keuntungan. Untuk yang lemah diberikan pembiayaan (qardh), dan pemberian bantuan dalam bentuk zakat, infaq dan shadaqah. Orang yang mulia sebagaimana yang diinginkan Islam adalah orang yang berusaha dengan tangannya sendiri, menjauhi minta-mita. Bahkan Rasulullah SAW pernah memuji tangan seorang tukang batu. Karena dengan tangannya ia dapat memenuhi kehidupannya tanpa bergantung s kepada orang lain. Semangat kedermawan (filantrofi) dari umat Islam mesti didorong dan dapat dikelola dengan baik, professional dan akuntabel untuk memberi bantuan dan pembinaan.

3. Menjauhi Gharar (tidak jelas) & Spekulasi

Pembaca mungkin pernah mendengar bahwa, ada orang yang bersepekulasi mengenai hasil usaha. Misalnya membeli tanaman yang belum cukup umur untuk panen. Kemudian disepakati harga, pembeli berspekulasi untuk mendapat harga murah, dan ketika panen mendapat untung besar. Hal ini tentu saja akan menimbulkan masalah. Mengapa, karena buah-buah yang menjadi tumpuan dihari panen tiba tidak dapat diukur keadaannya. Jika nasib baik maka akan baik pula hasilnya bagiamana jika sebaliknya. Artinya produk fisik akhir mestinya yang lebih diutamakan. Kebaikan yang ada padanya mesti disebut (jelas) dalam akad. Dan keburukan pada hasil produk juga mesti disebutkan. Sisi gelap (gharar) dalam menutupi kekurangan dari sebuah produk fisik mesti dihindari. Tidak ada dusta diantara kedua pihak, inilah yang mesti dikembangkan. Inilah yang membedakan kegiatan ekonomi syariah dengan yang lain.

Dimasa modern orang mengenal perbankan, dapat diartikan secara sederhana sebagai tempat menyimpan dan meminjam dengan sitem dan aturan tertentu. Aturan ini terkait dengan aturan peminjaman dan pengembalian. Sistem yang berkembang paling umum adalah sistem bunga. Logis memang jika setiap orang ingin mendapatkan untung bagi usahanya. Jual-beli dalam perdaganganpun sebagai tujuan akhir adalah keuntungan. Keuntungan merupakan kelebihan dari harga dasar, harga produksi dan ongkos transportasi. Orang yang memperhitungkan pinjaman uang dengan kelebihan ini menjadi polemik antara yang membolehkan dalam kadar tertentu dan yang tegas dalam keharamnnya.

Aturan dan syariat Islam justru berseberangan, uang tidak bisa disamakan dengan barang. Uang yang dipinjamkan jika akan dikembalikan mesti sama jumlahnya. Kelebihan dari pada itu mesti dikembalikan karena haram. Sedikit atau banyak sama saja, kelebihan itu disebut dengan ar-riba. Pola syariat Islam berbeda dengan pola konvensional, karena riba telah membuat sengsara buat penghutang karena, orang yang berhutang membayar plus riba.

Jika kita mengambil andil untuk menabung di bank syariah sama artinya dengan melakukan usaha untuk memberi obat, meruqyah keadaan ekonomi kapitalis global dengan syariat Islam. Jihad ekonomi tidak bisa dianggap remeh, ingatlah sebuah pernyataan kaadal- faqru ayyakuna kufran, bisa diartikan bahwa masalah ekonomi akan menyeret anda, kita dan saya kepada kekufuran. Bagi anda yang telah menggunakan jasa bank syariah, merupakan kebanggan tersendiri dalam abad religiusitas saat ini. Meminjam istilah Danah Zohar (penggiat Spiritual), semesta kebaikan yang dikandung dalam agama seperti jaringan sistem syaraf. Sebuah noktah dari yang menciptakan manusia, seumpama dzat yang terus menerus terpendar sebagai kecenderungan setiap manusia kepada kebaikan. Alangkah indahnya, sifat baik juga tercermin dari perilaku diantaranya memilih sesuatu yang jelas-jelas halal dan baik.

Sebagai penutup, dengan menjadi bagian kecil dari nasabah bank syariah, terus menularkannya. Kekuaatan ekonomi yang kecil, tidak mustahil hingga melimpah jadi sesuatu yang besar, menjadi rahmat bagi seluruh alam dan pertanda senjakala ekonomi riba. Kepada bank syariah perlu juga introspeksi , mengenai produk dan transaksi perbankannya, apakah telah benar-benar halal. Memberi jaminan keamanan usaha dan simpanan para nasabah. Produk-produknya mesti mempermudah bukan malah mempersulit, sehingga trust kepada bank syariah betul-betul tinggi.

Wallahu a’lam bis-showab

Sukron

Dapat dilihat juga di : http://www.facebook.com/sukron1?ref=profile#!/notes/soekron-bayan-tula/senjakala-ekonomi-riba/380763744627

Sunday, August 21, 2011

Metamorfosa Musik

Music is another way of recreation,

Medication, and revolution…. (anonim)

Tidak ada seorangpun yang akan betah dan kerasan jika berada dalam situasi jelek. Perasaan bosan akan segera menyergap, dan waktu akan menjadi hal yang menyiksa secara psikologis. Orang per orang akan melakukan kegiatan yang akan menyamankan dirinya. Ada orang yang berusaha untuk menggerakkan entah kepala, tangan dan kaki untuk sekedar menghilangkan kebosanan. Ada yang hilir mudik berjalan, dengan niat untuk menghabiskan waktu. Tidak sedikit dari kita yang melantunkan sebait lagu, dalam bentuk siulan, ketukan tangan atau menggunakan teknologi berupa MP3, MP4 untuk mendengarkan musik kesukaannya. Musik dalam bentuk perpaduan vokal suara dan instrumen musik pengiring telah menjadi bagian manusia. Fungsinya bahkan dapat meningkat dari hanya sekedar teman sepi akan tetapi juga menjadi identitas suatu bangsa. Musik dalam abad modern diatur sedemikian rupa sehingga tidak dapat dijiplak dan dilantunkan secara bebas, dan diakui secara sepihak oleh negra lain. Pertunjukan musik popular menjadi hiburan tersendiri, orang memilih musik dengan genre yang berbeda-neda. Musik merupakan kreatifitas, ada musik rock, pop, blues, jazz, dan tradisi. Jenis-jenis musik akan turut mempengaruhi penampilan dan sikap seseorang.

Pengaruh musik sejak mulai didedangkan sebagi ritual, berubah menjadi alat efektif untuk muatan politis. Musik terutama liriknya telah dijadikan alat untuk mentransformasikan kesedihan, kegembiraan, patriotisme, dan perlawanan terhadap tirani. Bisa diambil contoh grup musik the Beatless terkenal dengan lagunya yang menyuarakan humanisme, di Indonesia ada Iwan Fals, Franky Sahilatua, Kyai Kanjeng-Emha Ainun Nadjib. Musik sebagai bahasa universal dapat dinikmati oleh siapa saja, meskipun kita tidak mengetahui apa arti dari syair lagunya. Dentingan gitar, merdunya seruling, dan tetabuhan menjadi pelipur lara. Musik karena sejumlah kelebihannya juga telah digunakan sebagai alat ibadah, lagu-lagu rohani juga mendapat tempat didalam masyarakat selama berabad-abad lamanya.

Pengaruh musik yang sedemikian masif terutama kepada anak muda telah membuat keresahan. Keresahan diakibatkan oleh penyanyi, atribut dan perilaku yang dipakai. Selain itu juga lirik, sejumlah lirik lagu terkadang mengandung unsur rasisme, rasa permusuhan, dan cabul. Media musik yang amat mudah diterima kalangan tidak dapat dihentikan ketika anak-anak dibawah umur mendengarnya, musik sudah berubah dari media hiburan menjadi penyakit. Penyakit ini akan merebak dan mengubah tatanan sosial, mulai dari sifat asli sebuah kultur, etika, dan filosofi hidup. Negativitas dalam musik sebenarnya tidak dapat mencoreng kelangsungan musik itu sendiri. Agama tertentu yang keras melarang musik, masih mentolerir adanya senandung.

Penulis beranggapan bahwa musik adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan jika diibaratkan sebagai konser, adalah sebuah konser besar. Dimainkan oleh jutaan manusia. Kegetiran hidup, kesenangan, dapat disebarkan melalui lirik dan sentuhan irama. Konser besar ini dalam berupa-rupa teriakan, obrolan, pukulan benda, klakson mobil, deru kendaraan, rentetan senapan, sirine, pluit. Bahkan alam telah mempersembahkan sebuah alunan musik, berupa gemercik air, lolongan anjing, ringkikan kuda, auman singa dan sebagainya. Musik dan syairnya dapat juga berubah sebagai kontemplasi batin terdalam, membawa pesan damai hingga ujung dunia. Sampai kapanpun musik akan ada seumur hidup manusia sebagai pelaku dan penikmatnya. Dan perlu kiranya pelaku dan pemusik untuk memanfaatkan pengaruh terbesar dari musik yaitu perubahan. Perubahan untuk menggerakkan orang berbuat kebajikan, meletupkan asa untuk pengorbanan dan perbaikan masyarakat luas. Musik telah mengalami suatu masa sebagai penghibur telinga, berdendang, berkasih mesra kini kita menunngu fungsi musik yang masih terpendam sebagai medium of change. Sudah saatnya musik dilantunkan untuk perubahan besar umat manusia

SBT

Tuesday, August 16, 2011

*Saluang

Ditiup dengan sepenuh jiwa,

Dibawa belaian angin hingga merasuk telinga penikmatnya

Saluang, sebagaimana lidah orang minang mengenalnya

Saluang dibuat dari kayu bambu, liat, kuat

Celah-celah berbentuk lubang-lubang terpahat,

Disinilah jari-jemari mewakili kalbu, merayu dan merajuk

Suling bambu berpadu menjelma alunan syahdu

Saluang adalah seruling sukma

Jika didengarkan dengan seksama

Terasa lirih, mempertanyakan diri hendak kemana kita..?

Saluang adalah wajah kecil orang minang,

Lewat alunannya terjejak sifat, sikap sebagai suku perantau

Irama saluang seumpama jeritan hati nan galau,

.. rindu ayah, rindu mamak, rindu adiak, rindu sadonyo

... dan rindu kampuang nan jauah dimato

Dalam balutan jubah seni, saluang adalah tafakkur jiwa

Sebuah penampilan yang indah, dipagari oleh tuntunan agama

Untuk menghayati hidup, berjuang, dan berusaha

Mencari saripati kehidupan yang fana ..

.... merantaulah engkau jauh memenuhi hasrat yang tidak diketahui

.... mencari rejeki, mencari ilmu, menggenapkan sisi ingin-tahu rohani

.... menjadi cermin diri, cermin masyarakat, secara akhlak dan ragawi

sebagaimana janji kitab suci tidak akan terjadi

jika tidak dimulai dari diri sendiri,

Saluang, masih lamat-lamat terdengar

Menyelipkan salam perjuangan, salam kedamaian yang terpendar

Salam kerinduan kepada tanah tumpah, kampung halaman

Salam perubahan nasib agar layar terus terkembang

sukron sugandi

puisi untuk lomba Kota Padang

16 Ramadhan 1432 H/16 Agustus 2011 M