Sunday, September 27, 2015

Revitalisasi Budaya Hijau Indonesia Upaya Dini Menghadapi Darurat Ekologi Global


Pendahuluan : Alam yang tersakiti

            Fenomena baru saat ini di Jakarta, makin maraknya penggunaan masker (penutup) hidung bagi pekerja non-pabrik. Cara tersebut dilakukan kebanyakan oleh para wanita bukan untuk kebutuhan passion melainkan untuk mengurangi asupan polusi udara yang terhisap kedalam tubuh. Lebih jauh, tragedi pemanasan global dan efek buruknya menjadi isu hangat. Hal ini terjadi karena naiknya suhu udara akibat perilaku manusia hasil pembuangan zat yang menghasilkan semacam sabuk di atmosfir yang memantulkan panas dari bumi, kembali menuju ke bumi. Kenaikan suhu ini berakumulasi dengan wilayah tertentu misalnya di daerah kutub selatan, dimana laju mencairnya es menjadi lebih cepat. Efek selanjutnya yaitu mengakibatkan naiknya permukaan air laut di seluruh dunia. Pemanasan global bukan sekedar fakta tetapi kenyataan yang harus diterima bagi koloni manusia di kolong jagad hari demi hari.
            Penurunan kualitas udara akibat gas buang terjadi terutama dari pembakaran mesin kendaraan, mesin pabrik dan reaktor. Pabrik-pabrik raksasa beroperasi dengan  mengkonsumsi sumber energi dari perut bumi. Alam terus menerus dipaksa, dan secara sadar dirusak atas nama kebutuhan hidup manusia. Hutan dijadikan perumahan baru atau disulap menjadi perkebunanan dan peternakan, atas nama kebutuhan manusia. Hutan semakin berkurang, demikian pula oksigen yang dihasilkan tentu berkurang kualitasnya. Sementara laut dan sungai di beberapa Negara menjadi muara akhir tempat sampah raksasa dari aneka limbah berbahaya dan beracun. Kerusakan alam, menjadi sebuah keniscayaan, terjadi didarat, dilaut dan diudara, di permukaan hingga dalam perut bumi. Hal ini karena manusia menilai alam sebagai pelengkap kebutuhan manusia dan hanya dieksploitasi atas nama kepentingan manusia.
            Posisi Indonesia saat ini, masih dalam kubangan problema lingkungan, kasus-kasus perusakan alam dan akibatnya kerap terjadi. Meskipun hutan hujan Indonesia bersama Brasil dan sebagian Afrika masih menjadi dapur oksigen yang utama bagi manusia dunia. Kesadaran dan kepedulian manusia Indonesia masih sangat kurang, hal ini dapat kita tengok dari kondisi sungai yang ada di kota besar. Sungai-sungai tersebut terlihat makin rusak dan makin kotor, sungai menjadi tempat sampah harian warga, dan menjadi mck (mandi cuci-kakus). Bagaimana memulai dan memperbaiki keadaan ini. Idealnya negara menaruh konsen yang besar terhadap permasalahan kerusakan yang terjadi di daratan, di laut dan di udara.
            Masih menjadi hal utama adalah soal pendidikan lingkungan, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan dapat melakukan gerakan nyata dan terprogram. Pemerintah juga ditunggu kebijakannya untuk membenahi hutang  pencemaran udara akibat gas buang kendaraan yang harus segera dilunasi dengan mereduksi gas buang berbahaya. Upaya pemerintah dan penggerak lingkungan bukan sekedar iklan dan penghargaan tetapi lebih serius ‘memaksa’ kepada warga masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap kebijakan pemerintah. Sampai saat ini kendaraan menggunakan sumber bahan bakar fosil yang ketersediaanya cenderung kempis. Masyarakat banyak juga mesti disadarkan dan dididik untuk menjadi warga yang berkesadaran lingkungan. Kesadaran yang mengikat kepada alam sekitar dengan satu perasaan yaitu merasa lingkungan alam bagaikan organ tubuh yang perlu dijaga.

Budaya Hijau, Budaya Global

            Gaya hidup merusak alam, sudah dimulai sejak masa revolusi industri, saat mesin-mesin mengambil alih kerja manusia. Penggunaan mesin ini memerlukan asupan minyak bumi, dan residu berupa limbah berbahaya. Revolusi industri dengan mekanisasi dilanjutkan pada masa modern, dengan pabrikasi besar dan menggurita. Pabrik dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus tumbuh berdasarkan deret ukur, limbah semakin banyak dan mulai mencemari sungai dan lautan. Bahkan adapula negara yang menggunakan energi nuklir untuk pembangkit kerja mesin-mesin pabrik. Reaktor-reaktor tersebut ternyata tidak selamanya kokoh, ada yang mengalami kebocoran, bahkan meledak akibat kelalaian manusia ataupun akibat bencana alam. Dan manusia untuk ratusan kalinya menjadi tumbal, mati tercemar gas beracun dan yang berhasil hidup menderita cacat fisik permanen.
            Budaya adalah cara ampuh untuk memasukan nilai-nilai kehidupan yang dijalankan. Kekuatan kebudayaan acapkali digunakan untuk merubah suatu sistem lama kepada sistem baru secara perlahan. Indonesia saat ini menjadi daya tarik yang kuat bagi negara lain, sementara anak mudanya tertarik kepada budaya asing. Kebudayaan barat hingga hari ini masih disebut sebagai biang keladi rusaknya budaya asli di Indonesia. Padahal budaya adalah kekuatan yang dapat dirubah melalui tukar pikiran dan pengalaman dan pendidikan. Budaya go green saat ini identik berasal dari dunia Barat. Sepertinya tidak ada penolakan karena budaya ini seiring sejalan dengan hati nurani manusia bahwa lingkungan wajib hukumnya diselamatkan dari kerusakan.
            Residu dari perlakuan manusia terhadap alam yang serampangan kembali berpulang kepada manusia itu sendiri, semula efek buruk ini tanpa disadari. Anomali keadaan ‘perilaku’ alam akhir-akhir ini yaitu pada perubahan iklim dan cuaca. Global warming mulai menyadarkan sebagian manusia, dan mulai bergerak secara sistematis untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan yang lebih parah. Sementara sebagian yang lain dalam kondisi sedang menikmati berkah alam dan menjadi objek untuk disadarkan dan digugah rasa kepeduliannya kepada alam. Gerakan dan aksi nyata seperti go green, save our earth, back to nature menjadi slogan baru yang disosialisasikan melalui media massa cetak maupun elektronik. Kebanyakan orang masih mengira bahwa kegiatan tersebut adalah iklan dan proganda dengan motif mencari keuntungan finansial semata.
            Sejatinya praktek dan perilaku budaya hijau dilakukan oleh masyarakat pedesaan dibandingkan masyarakat modern perkotaan. Masyarakat perkotaan terlena dan sibuk dengan urusan pekerjaan harian masyarakat modern. Budaya hijau telah tercerabut dalam perilaku masyarakat kota dan berubah menjadi masyarakat yang hanya menjadi konsumen hasil bumi pedesaan. Sementara persoalan demi persoalan yang berkaitan dengan lingkungan lambat laut menjadi mimpi buruk peradaban umat manusia. Problem pemanasan global, problem pencemaran lingkungan dan bencana alam terkait dengan pengerusakan terhadap alam silih berganti menimpa manusia tanpa melihat latar belakang dan agama apapun. Para ahli dan cendikiawan, serta individu khusus/volunteer yang peduli kepada alam kemudian memberikan jawaban bahwa perilaku manusia telah keliru selama ini terhadap alam. Dimulailah suatu kesadaran kembali kepada alam dan kehidupan yang bersahabat dengan alam.
            Budaya hijau ada ditiap-tiap kebudayaan dunia, sayangnya budaya ramah lingkungan yang adiluhung telah tergadaikan dan tergerus karena hajat dan kebutuhan manusia yang terus meningkat pesat. Diperlukan padu-padan antara budaya hijau dengan kebutuhan manusia yang mendesak saat ini terutama untuk perumahan, dan pertanian guna menyokong kelangsungan hidupnya. Budaya hijau ini sayangnya tidak menyentuh kehidupan terapan pada masyarakat. Perilaku keseharian masyarakat akan mengalami pergeseran misalnya soal sampah. Sampah dalam berbagai bentuknya dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang jauh dari rumah. Sampah yang beraneka macam itu dibuang dimana-mana termasuk di sungai.  
Pengelolaan sampah sebagaimana filosofi barat yaitu dengan melakukan tiga hal yaitu reuse, reduce dan recycle (guna-ulang, kurangi ketergantungan dan rubah bentuk). Tiga pola ini karena sampah domestik modern berbahan plastik sesuatu hal yang baru di kehidupan kita. Sampah juga mesti dipilah ketika dibuang, apakah berkategori organik dan non organik. Budaya hijau dari Barat sayangnya masih terpolarisasi meskipun dikampanyekan budaya go green  akan tetapi percepatan penggunaan bio-energi masih minim dan berongkos mahal. Cadangan minyak bumi yang dikatakan menipis dan akan habis seolah-olah teori tidak dipercaya, hanya bualan Barat belaka. Hal ini menjadi semacam ketidakpercayaan pabrikan besar yang berproduksi kendaraan baik Jepang, Korea dan Tiongkok yang tetap meproduksi kendaraan berbahan bakar minyak bumi. Rupanya kampanye go green masih dihambat oleh individu, dan para cukong berskala internasional.

Budaya Hijau, Budaya Indonesia

            Budaya hijau merupakan bagian penting yang ada di Indonesia, kurang lebih kebudayaan ramah lingkungan ini menyatakan bahwa tumbuhan dan hewan adalah bagian dari kehidupan dan memiliki alam masing-masing yang tidak boleh diusik. Jika ada yang melanggar larangan atau pantangan dalam rupa menggangu ekosistem alam baik tumbuhan dan hewan, maka ada sangsi adat berupa marabahaya bagi pelakunya. Bahkan ada aktivitas pelanggaran yang terjadi menyebabkan marabahaya -berefek sosial-bagi penduduk setempat dan pelakunya dapat diusir atau dihukum fisik.
            Budaya hijau merupakan kearifan lokal masyarakat di Indonesia yang menjadi ciri khas. Budaya hijau ini memungkinkan terciptanya pelestarian sumber daya hayati dan hewani. Budaya hijau di Indonesia turut melestarikan kelangsungan ekosistem secara keseluruhan meliputi air, tanah dan tumbuhan di daerah hutan. Kekurangan budaya hijau setidaknya pada dua hal yang membuatnya mengalami pergeseran, yaitu hukuman yang bersifat abstrak. Mengapa, karena budaya hijau di Indonesia ditautkan dengan suatu keyakinan spiritual yang hukumannya tidak ditentukan dan akan diterima menurut pengalaman pribadi masing-masing. Kedua, sifat dari kebudayaan adalah perilaku kehidupan yang diturunkan dari orang tua kepada generasi berikutnya. Informasi yang disampaikan akan mengalami hambatan dan penyimpangan ketika keturunan tersebut keluar dari suatu daerah ke daerah lain dengan kebudayaan dan kebiasaan yang berbeda pula. Kedua hal ini yang mendistorsi dan mereduksi kelangsungan kebudayaan hijau untuk diterapkan.
            Contoh kecil mengenai tradisi hijau dalam ketersediaan sumber pangan. Di daerah Desa Cinangneng, Bogor–Jawa Barat, dengan kebiasaan menanam aneka padi-padian. Selain komoditas utama menanam padi-beras, termasuk juga beras ketan, mulai dari beras merah, beras ketan hitam dan ketan putih. Dalam satu areal persawahan yang diistilahkan kotakan, padi-padian tersebut ditanam dan dilanggengkan turun temurun sehingga bibit aneka padi tersebut tersedia. Sayangnya ketika arus ekonomi semakin maju dengan ketersediaan pangan yang melimpah. Padi-padian tersebut telah tersedia di warung-warung, dipasok secara rutin oleh distributor yang pada akhirnya membuat tradisi menanam aneka tumbuhan buah dan padi-padian telah ditinggalkan. Maka plasma-nutfah asli Indonesia akhirnya punah karena sudah tidak ditanam lagi oleh generasi di bawahnya, padahal soal kualitas belum tentu produk padi-padian Indonesia kalah kualitasnya dari produk impor produksi Tiongkok dan Vietnam.
            Pemerintah dan pihak swasta perlu turut bersinergi untuk menangani keruskaan lingkungan. Problem lingkungan terbesar yaitu pencemaran akibat limbah pabrik, pubahnya habitat hutan dan rusaknya lingkungan akibat pengeboran tambang (Freeport, Lapindo dsb.) menjadi pelajaran berharga. Reboisasi hutan gundul, pelestarian hutan lindung, hutan konservasi yang telah dicanangkan untuk dapat diteruskan dan ditegakkan hukumnya dengan benar, penebangan liar (illegal logging) tidak hanya disangsi oleh saksi adat melainkan menggunakan sangsi hukum. Ijin pengelolaan hutan (HPH) juga mesti dipersulit peruntukannya. Kebudayaan ramah lingkungan, dalam hal ini budaya hijau tidak dapat bertahan disebabkan keserakahan manusia. Alam pada suatu hari memiliki cara untuk menagih janjinya berupa malapetaka seperti banjir bandang, tanah longsor, punahnya hewan dan tetumbuhan kekayaan endemik Indonesia. Diperlukan pemulihan tanah secara sistematis dan terprogram. Pemulihan daerah hijau yaitu dengan memilih bibit tanaman yang cepat besar, tahan hama dan mengandung manfaat untuk menampung air tanah.
            Budaya hijau Indonesia yang dilakukan turun temurun telah mewariskan hutan belantara hijau, keanekaragaman hayati dan hewani. Larangan dan hukuman adat meskipun bersifat abstrak dan tidak dapat terlihat efeknya telah menjaga kepedulian masyarakat Indonesia untuk tidak semena-mena kepada alam. Kearifan Timur melalui Indonesia terbukti oleh jaman yang selama ratusan tahun bergulir menjaga hutan tetap lestari. Suku-suku pedalaman yang masih memegang tradisi dipedalaman hutan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih melakoni tradisi hidup bersama alam. Meskipun mereka dapat dikatakan tidak tersentuh dengan kebudayaan modern, tidak berpendidikan, mereka tetap melakukan aktifitas kehidupan yang bergantung pada alam. Kegiatan mereka dapat diperbesar sebagai penjaga terdepan hutan dan kekayaan tumbuhan dan hewan. Pemerintah mesti memberikan apresiasi untuk memberdayakan kehidupan mereka tanpa mencerabut hidup dipedalaman hutan.
           
Aksi Budaya Hijau

            Budaya ramah lingkungan Indonesia semula yang telah dilangkahi harus segera disoialisaikan kembali. Perubahan kehidupan masyarakat modern membuat masyarakat terkecoh dengan kebudayaan baru yang justru tidak ramah lingkungan. Pengarusutamaan budaya hijau Nusantara menjadi sesuatu hal yang perlu dipraktekkan kembali tidak sekedar menjadi pengetahuan manusia Indonesia. Revitalisasi budaya hijau ini dapat dimulai dengan mengadopsi nilai-nilai lokal sejak dini dari tingkat dasar. Sumber-sumber bacaan budaya hijau dapat ditulis ulang dan disebarkan ke sekolah-sekolah dalam aneka bentuk baik cerita bergambar maupun dalam bentuk komik. Penanaman nilai-nilai budaya hijau menjadi bagian kehidupan dari individu, dan menjadi stimulan untuk kegiatan yang lebih besar untuk menyelamatkan lingkungan. Internalisasi budaya hijau diperkuat menggunakan pendekatan ajaran keagamaan, untuk memperkuat landasan kecintaan kepada lingkungan.
            Kegiatan kecintaan terhadap alam, dimanifestasikan dengan menggelorakan kebanggaan terhadap lingkungan resik di Indonesia. Masing-masing daerah memikul tanggungjawab yang besar untuk peduli terhadap kekayaan alam baik hutan dan lautan dengan gerakan pemuda hijau, siswa hijau, santri hijau, mahasiswa hijau, aparat hijau, dan tentara hijau. Kategori pelajar hijau dapat melakukan penghijauan lingkungan rumah dan sekolah. Pemilahan dan pembersihan sampah, dengan menggiatkan para pelajar untuk memerangi sampah, kegiatan perpeloncoan yang saat ini marak di sekolah-sekolah ada baiknya diganti dengan kegiatan pengenalan budaya hijau dengan gerakan bersih sekolah dari sampah. Komunitas hijau diarahkan untuk membantu reboisasi hutan gundul. Penanaman hutan bakau (mangrove) yang telah terbukti manfaatnya untuk mencegah abrasi dan gelombang air laut. Selain bakau, tanaman lain yang berguna juga mesti dibudidayakan dengan kategori mudah dikembang biakkan, memiliki manfaat yang multiguna. Mahasiswa digiatkan untuk menciptakan alat pengolah limbah plastik, atau membuat pengganti plastik yang dapat dicerna kembali oleh tanah. Alat-alat pengolah sampah langsung digunakan, adik-adik yang belakangan melanjutkan perbaikan dan penambahan kualitas, sehingga alat tersebut makin baik kinerjanya.
            Tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia yang memenuhi kriteria cepat tumbuh, tahan hama dan dapat berfungsi sebagai penampung air adalah bambu. Bambu adalah tumbuhan berumpun yang banyak jenisnya dan banyak tumbuh di kepulauan di Indonesia. Tumbuhan bambu juga diyakini sebagai penyaring udara, mampu menyerap zat-zat beracun diudara bebas dan tetap penyuplai oksigen. Bambu juga menjadi vital karena akarnya liat, dapat memperkuat struktur tanah sehingga tanah tidak mudah rekah, dan longsor. Sebagaimana tanaman bakau yang dapat menjaga tepian pantai agar terhindar dari abrasi. Tumbuhan bambu, tumbuh membentuk rumpun, sementara didalam tanah, akar bambu membentuk koloni-koloni seperti rimpang sehingga mampu menampung air dalam jumlah besar. Bambu juga secara ekonomis bermanfaat dijadikan bahan bangunan karena struktur batang bambu lentur dan kuat.
            Pekerjaan rumah yang berat adalah merubah komsumsi kendaraan yang berbasis bahan bakar tunggal minyak bumi (bbm) dengan sumber energi terbarukan. Sinergi dengan perusahaan besar mau tidak mau segera dilakukan dengan mengembangkan produk kendaraan berbahan bakar non-bbm, sumber energi terbarukan misalnya dengan solar-system dan energi listrik. Pihak swasta mengembangkan kendaraan listrik sementara pemerintah membangun infrastruktur listrik yang ramah lingkungan misalnya dengan pembangkit listrik tenaga gas, uap dan air. Pemerintah dapat bekerja sama dengan negara lain, misalnya dengan Eropa yang telah berhasil mengembangkan kendaraan berbasis energi terbarukan. Jika tidak dilakukan maka hukum alamlah yang akan memaksa manusia menerima kerugian, fenomena pengguna masker (hari ini) akan berubah tidak hanya memakai masker, tetapi karena kualitas udara yang semakin parah. Kelak, manusia Indonesia juga akan membawa tabung oksigen murni selain masker penutup hidung. Kehidupan manusia sudah seperti di dunia lain, bahkan saling sapa saja sudah sulit, masing-masing menyelamatkan diri tanpa peduli orang lain.
            Siapapun orang yang memegang supremasi kepemimpinan dengan membangga-banggakan latar belakang ras, agama, golongan dan partai tidak akan dapat menyelamatkan kondisi kerusakan lingkungan yang masif. Hal ini menunjukkan bahwa agama, ras, dan golongan/partai akan bertekuk lutut dihadapan problematika lingkungan. Memikirkan lokalitas masalah belum cukup bagi sebuah kelompok dan bangsa untuk dapat selamat dari efek global kerusakan lingkungan. Sekali lagi, permasalahan akan menjadi ‘lingkaran setan’ yang tidak berujung, menjadi pekerjaan rumah berkelanjutan. Hal ini akibat dari saya, anda dan kita memperlakukan bumi secara semena-mena. Kebersamaan menjadi kunci untuk memperbaiki kondisi lingkungan, namun upaya ini sering kali terhenti dan terbengkelai dibawah bayang-bayang keserakahan manusia dalam rupa peperangan dan penjajahan dan ketidakpedulian individu dan lembaga pemerintah. Diktum sederhana yang menjadi renungan : “jika harimau-jawa, sumatera telah punah, maka orang-orang di pulau jawa dan pulau lainnya juga akan bernasib sama….”

            

Tuesday, April 07, 2015

Bercermin dari permen legendaris Belanda, hopje…

Bagi anda mungkin ada yang mengenal permen dari negeri kincir angin, atau malah penggemarnya ??? Ya, hopje, dibaca hopye atau hopyes. Permen imut asli belanda ini menurut ensiklopedia digital wikipedia.org disebutkan Hopje adalah permen dengan rasa kopi dan karamel. Hopje berasal dari Den Haag, karena itu juga sering disebut Haagse hopjes. Hopje diciptakan oleh seorang bernama Hendrik Hop pada akhir abad ke-18. Di Indonesia, permen dengan rasa kopi juga ada yang kesohor yaitu permen Kopiko tetapi jika disandingkan sangat berbeda era dan memunuhi nilai historis.  
Hopje seperti penggalan namanya seumpama harapan (hope) atau cinta (love) dibuat dari saripati yang sangat Eropa-centris. Masih menurut wikipedia bahan dasar pembuatan permen tersebut, bisa juga ditambahkan dengan susu full-cream agar lebih creamy di lidah. Untuk menambah sensasi manis, dapat diberi choco-chip serta honey. Kemasan untuk permen ini, dapat dibentuk secara variatif. Bukan hanya bentuk seperti perahu saja, tapi dapat juga dibentuk seperti hati, donat, serta bintang. Biasanya, permen ini dapat dinikmati dikala saat anda bersantai bersama orang-orang yang dikasihi.
Gambar. Permen hopje berbentuk perahu khas kayak Belanda 
(sumber :wikipedia.org) 

Belanda sebagaimana negara-negara eropa pernah memasuki era perlombaan untuk mendapatkan sumber energi, finasial dan prestis dari negara di belahan Timur. Belanda bagi Indonesia adalah masa lalu dan masa depan. Belanda sebagai masa lalu adalah peninggalan berupa gedung dan tata kota di banyak daerah di Indonesia. Dan sebuah potret kelam, bernama penjajahan terhadap rakyat Indonesia yang kala itu masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Sebagai masa depan, Belanda dikenal sebagai negeri yang penuh dengan inovasi dan kreativitas. Ide dan kreativitas menjadi potret indah sebagai inspirasi rakyat Indonesia yang sedang bergelut membangun negeri dan memperbaiki derajat kesejahteraan wong cilik.
Karena alasan kedekatan inilah permen mungil ini juga pernah masuk ke Indonesia, dan telah diadopsi menjadi kuliner di beberapa wilayah di Indonesia. Misalnya di Semarang hopjes dijadikan minuman dingin yang mantaf. Pemilik restoran yang beralamat di Jalan Gajahmada Semarang, Jongkie Tio mengatakan minuman ini merupakan peranakan Belanda yang sudah dikenal cukup lama. Minuman berwarna cokelat cukup pekat ini biasanya disajikan dengan es batu. Bahan dasar minuman ini sangatlah mudah, yakni kopi, susu full cream, cokelat dan caramel. Ia menceritakan ketika itu ada orang Belanda yang datang padanya. Ketika itu orang asli Belanda itu dibuatkan minuman, namun meminta perpaduan tersebut. Kemudian orang Belanda itu mengatakan ini minuman Hopjes, namun di Belanda dikenal sebagai permen yang memang banyak diminati. Akhirnya minuman itu menjadi salah satu menu utama yang ada di restoran yang sudah didirikan sejak 1991. Jika orang-orang susah mendapatkan permen Hopjes, bisa bernostalgia dengan minuman Hopjes khas Semarang. Saat menerima tamu-tamu dari Belanda, minuman ini juga selalu ada untuk disajikan.


Gambar Es Hopjes versi Indonesia, buah karya orang Semarang… segerrrrrrr….
(sumber : http://travel.kompas.com) 

Selain dijadikan minuman, inspirasi dari permen cilik hopje lainnya adalah dijadikan panganan kue berupa puding. Seorang blogger di wordpress.com membuat artikel yang menceritakan proses pembuatan kudapan berbahan dasar dari permen hopje. Menurutnya setelah melihat isi kandungan hopje munculah ide untuk membuat puding hopje.


Gambar Puding Kopi ala Hopjes yang terinspirasi langsung dari permen hopje 
(sumber: amaliayunus.wordpress.com) 

Waktu berlalu hingga memasuki milenium baru, di Belanda telah menjadi lumrah rempah masuk menjadi resep dalam rupa makanan dan minuman. Akan tetapi mereka tetap memiliki jati diri sebagai bangsa Eropa yang sangat khas dengan coklat, susu, cream dan produk keju. Bukan tidak mungkin di Belanda mereka membuat permen jahe, temu lawak, tetapi itu tidak dilakukan sebagai produk andalan utama. Tumbuhan cengkeh, lada, ketumbar, biji pala, kayu manis, jahe, menjadi legenda dan pernah menjadi "emas hijau" di pelosok Eropa. Sehingga mengantarkan bangsa Eropa untuk datang dengan armada kapal layarnya ke Nusantara, tetapi kisah ini adalah sejarah, dan hopje adalah cita rasa unik Belanda untuk dunia. Kini, rempah-rempah sudah menjadi barang komoditi biasa diperdagangkan antar negara. Indonesia bahkan berada di urutan lima besar negara pengekspor rempah dan herbal. Akan tetapi rempah dan herbal dijual ke luar negeri, terbesar masih dalam bentuk bahan mentah, bukan barang jadi.



Gambar Kekayaan rempah Nusantara 

Kekayaan lokal dan endemik rempah-rempah dan herbal Indonesia mestinya bisa mendunia lewat produk jadi. Hopje nama yang sederhana, adalah sebuah cermin bagi kita. Permen mungil nan manis ini, pernah meleleh dimulut anak-anak Indonesia ditahun 60-an higga kini, bisa menjadi inspirasi manis. Sumber daya hayati rempah dan herbal Indonesia yang melimpah ruah dapat mendunia jika ditangani secara serius. Sederhana saja, kayu manis bisa dijadikan pemanis alami, jahe sudah dikenal menghangatkan, dan kencur obat pegal linu alami tradisonal.
Dan terpenting tinggalkanlah sejenak janji efek penyembuhan dari herbal dan rempah itu, intinya rakyat Indonesia adalah bangsa ramah berbeda dengan berita dua dekade belakangan yang penuh amarah, amuk masa, korupsi dan kemiskinan. Permen yang identik dengan rasa manis dapat dijadikan komunikasi sederhana, menjadi jendela kecil sebuah negara bernama Belanda dsb. Kembali kepada tiga unsur yaitu kayu manis, jahe, dan kencur saja. Jika dipadukan dalam satu wujud permen maka akan menjadi sesuatu, dan kelak dapat bersanding mesra dengan hopje yang telah kesohor itu. Saya kira, kita mesti bercermin dari keunikan permen hopje.."

Sumber data dan foto :
http://id.wikipedia.org/wiki/Hopje 
http://www.amazon.com/Hopjes-Coffee-Candies/dp/B000W4OUCS 
http://travel.kompas.com/read/2013/05/08/16074341/Hopjes..Paduan.Kopi.Cokelat.nan.Memikat https://amaliayunus.wordpress.com/2015/02/09/puding-kopi-hopjes-terinspirasi-dari-permen-hopjes-belanda/ 
http://www.indonesia.travel/id/news/detail/1552/indonesia-promosikan-rempah-rempah-dalam-ethnic-food-europe-2015-trade-show 
http://unik.kompasiana.com/2012/06/18/warisan-nama-makanan-khas-belanda-470686.html