Sunday, August 21, 2011

Metamorfosa Musik

Music is another way of recreation,

Medication, and revolution…. (anonim)

Tidak ada seorangpun yang akan betah dan kerasan jika berada dalam situasi jelek. Perasaan bosan akan segera menyergap, dan waktu akan menjadi hal yang menyiksa secara psikologis. Orang per orang akan melakukan kegiatan yang akan menyamankan dirinya. Ada orang yang berusaha untuk menggerakkan entah kepala, tangan dan kaki untuk sekedar menghilangkan kebosanan. Ada yang hilir mudik berjalan, dengan niat untuk menghabiskan waktu. Tidak sedikit dari kita yang melantunkan sebait lagu, dalam bentuk siulan, ketukan tangan atau menggunakan teknologi berupa MP3, MP4 untuk mendengarkan musik kesukaannya. Musik dalam bentuk perpaduan vokal suara dan instrumen musik pengiring telah menjadi bagian manusia. Fungsinya bahkan dapat meningkat dari hanya sekedar teman sepi akan tetapi juga menjadi identitas suatu bangsa. Musik dalam abad modern diatur sedemikian rupa sehingga tidak dapat dijiplak dan dilantunkan secara bebas, dan diakui secara sepihak oleh negra lain. Pertunjukan musik popular menjadi hiburan tersendiri, orang memilih musik dengan genre yang berbeda-neda. Musik merupakan kreatifitas, ada musik rock, pop, blues, jazz, dan tradisi. Jenis-jenis musik akan turut mempengaruhi penampilan dan sikap seseorang.

Pengaruh musik sejak mulai didedangkan sebagi ritual, berubah menjadi alat efektif untuk muatan politis. Musik terutama liriknya telah dijadikan alat untuk mentransformasikan kesedihan, kegembiraan, patriotisme, dan perlawanan terhadap tirani. Bisa diambil contoh grup musik the Beatless terkenal dengan lagunya yang menyuarakan humanisme, di Indonesia ada Iwan Fals, Franky Sahilatua, Kyai Kanjeng-Emha Ainun Nadjib. Musik sebagai bahasa universal dapat dinikmati oleh siapa saja, meskipun kita tidak mengetahui apa arti dari syair lagunya. Dentingan gitar, merdunya seruling, dan tetabuhan menjadi pelipur lara. Musik karena sejumlah kelebihannya juga telah digunakan sebagai alat ibadah, lagu-lagu rohani juga mendapat tempat didalam masyarakat selama berabad-abad lamanya.

Pengaruh musik yang sedemikian masif terutama kepada anak muda telah membuat keresahan. Keresahan diakibatkan oleh penyanyi, atribut dan perilaku yang dipakai. Selain itu juga lirik, sejumlah lirik lagu terkadang mengandung unsur rasisme, rasa permusuhan, dan cabul. Media musik yang amat mudah diterima kalangan tidak dapat dihentikan ketika anak-anak dibawah umur mendengarnya, musik sudah berubah dari media hiburan menjadi penyakit. Penyakit ini akan merebak dan mengubah tatanan sosial, mulai dari sifat asli sebuah kultur, etika, dan filosofi hidup. Negativitas dalam musik sebenarnya tidak dapat mencoreng kelangsungan musik itu sendiri. Agama tertentu yang keras melarang musik, masih mentolerir adanya senandung.

Penulis beranggapan bahwa musik adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan jika diibaratkan sebagai konser, adalah sebuah konser besar. Dimainkan oleh jutaan manusia. Kegetiran hidup, kesenangan, dapat disebarkan melalui lirik dan sentuhan irama. Konser besar ini dalam berupa-rupa teriakan, obrolan, pukulan benda, klakson mobil, deru kendaraan, rentetan senapan, sirine, pluit. Bahkan alam telah mempersembahkan sebuah alunan musik, berupa gemercik air, lolongan anjing, ringkikan kuda, auman singa dan sebagainya. Musik dan syairnya dapat juga berubah sebagai kontemplasi batin terdalam, membawa pesan damai hingga ujung dunia. Sampai kapanpun musik akan ada seumur hidup manusia sebagai pelaku dan penikmatnya. Dan perlu kiranya pelaku dan pemusik untuk memanfaatkan pengaruh terbesar dari musik yaitu perubahan. Perubahan untuk menggerakkan orang berbuat kebajikan, meletupkan asa untuk pengorbanan dan perbaikan masyarakat luas. Musik telah mengalami suatu masa sebagai penghibur telinga, berdendang, berkasih mesra kini kita menunngu fungsi musik yang masih terpendam sebagai medium of change. Sudah saatnya musik dilantunkan untuk perubahan besar umat manusia

SBT

Tuesday, August 16, 2011

*Saluang

Ditiup dengan sepenuh jiwa,

Dibawa belaian angin hingga merasuk telinga penikmatnya

Saluang, sebagaimana lidah orang minang mengenalnya

Saluang dibuat dari kayu bambu, liat, kuat

Celah-celah berbentuk lubang-lubang terpahat,

Disinilah jari-jemari mewakili kalbu, merayu dan merajuk

Suling bambu berpadu menjelma alunan syahdu

Saluang adalah seruling sukma

Jika didengarkan dengan seksama

Terasa lirih, mempertanyakan diri hendak kemana kita..?

Saluang adalah wajah kecil orang minang,

Lewat alunannya terjejak sifat, sikap sebagai suku perantau

Irama saluang seumpama jeritan hati nan galau,

.. rindu ayah, rindu mamak, rindu adiak, rindu sadonyo

... dan rindu kampuang nan jauah dimato

Dalam balutan jubah seni, saluang adalah tafakkur jiwa

Sebuah penampilan yang indah, dipagari oleh tuntunan agama

Untuk menghayati hidup, berjuang, dan berusaha

Mencari saripati kehidupan yang fana ..

.... merantaulah engkau jauh memenuhi hasrat yang tidak diketahui

.... mencari rejeki, mencari ilmu, menggenapkan sisi ingin-tahu rohani

.... menjadi cermin diri, cermin masyarakat, secara akhlak dan ragawi

sebagaimana janji kitab suci tidak akan terjadi

jika tidak dimulai dari diri sendiri,

Saluang, masih lamat-lamat terdengar

Menyelipkan salam perjuangan, salam kedamaian yang terpendar

Salam kerinduan kepada tanah tumpah, kampung halaman

Salam perubahan nasib agar layar terus terkembang

sukron sugandi

puisi untuk lomba Kota Padang

16 Ramadhan 1432 H/16 Agustus 2011 M