Revitalisasi Pusat Informasi :
Penyediaan Informasi Berkualitas Menuju Indonesia Baru
Catatan Kecil Kiprah Dewan Perwakilan Daerah RI Ideal ã
“dan bahkan firman Tuhan-pun disebut buku” ...[Kuntowidjoyo]
Pendahuluan
Pengaruh spiritualitas[1] kembali menjadi wacana untuk menjawab problematika sosial masyarakat. Abad ini telah identik dengan jaman teknologi dan inovasi. Teknologi dan spiritualitas keduanya dapat dilihat dan dianalisa sebagai sesuatu yang bersesuaian, dan juga bisa bertolak belakang. Dengan teknologi, manusia mampu membangun gedung-gedung, peralatan yang dapat memudahkan manusia untuk hidup, berpindah dan berekreasi. Di sisi lain, data-data terbaru menjelaskan kondisi hutan, laut, sungai telah rusak atau cuaca ekstrim yang tidak bersahabat.
Pusat-pusat informasi merupakan hasil karsa manusia. Pusat Informasi menjadi tanda abad modern. Berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil karya manusia bersifat non-profit. Pusat Informasi melayani pemakai, dengan kegiatan utama pengadaan, pengolahan dan layanan sirkulasi. Masyarakat secara luas belum merasakan manfaat langsung dari keberadaan perpustakaan, museum, dan gedung-gedung arsip. Kemiskinan dan pengangguran masih terbilang tinggi, akses kepada pendidikan terbilang mahal dan belum merata. Kondisi kurang beruntung akhirnya berujung pada meningkatnya penyakit sosial. Masyarakat menjadi mudah apatis kepada pemimpinnya. Sementara itu orang terdidiknya menjadi semacam ‘pertapa’ yang mengasingkan diri, sehingga menjadi keyakinan umum bahwa semua cuma teori, berbeda dengan realita. Uniknya teori-teori ilmiah tersebut terdapat dalam buku-buku yang menjadi sumber dokumen pusat informasi..
Tidak bisa diabaikan bahwa kesadaran kita sebagai satu bangsa, dan satu golongan manusia, tidak dapat tumbuh dan hidup secara terpisah. Pusat Informasi bagaimanapun keadaannya adalah anugerah. Jika belum baik, maka menjadi kewajiban kita dan siapapun anda untuk membantu dan memberdayakan sarana kultural tersebut. Kesadaran ini mesti dibangun oleh pemerintah secara nasional. Spirit untuk menjadi masyarakat bermartabat dapat disampaikan oleh pemerintah melalui sinergi beberapa kementeriannya. Tanpa disadari pusat informasi dan dokumentasi adalah kekuatan tersembunyi yang belum dioptimalkan. Lembaga-lembaga informasi dengan kekayaan koleksinya dapat dijadikan spirit perubahan Indonesia, dan kekayaan koleksinya dapat dimanfaatkan secara luas (massive) baik lokal maupun untuk daerah lainnya (antar provinsi) secara berjejaring, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan : Keadaan Sosial Budaya
Pusat informasi merupakan rumah pengetahuan, terkandung suatu sistem nilai.* Pusat Informasi mempunyai nilai-nilai luhur untuk memajukan bangsa. Kemajuan suatu bangsa dipikul oleh sumber daya manusia yang tidak cukup bermodal kejujuran, tetapi juga unggul kecakapan-intelektual dari pendidikannya. Dengan pendidikan diharapkan seseorang dapat lebih kreatif dan inovatif. Manusia unggul juga mesti memiliki kecerdasan spiritual. Dengan nilai-nilai spiritual diharapkan seseorang menjadi terkontrol emosinya, berjiwa sosial, menjadikan hidup sebagai ibadah. Manifestasi lain dari penjabaran nilai-nilai spiritual; upaya menjadikan seseorang peduli sesama, peduli lingkungan karena seluruh yang ada dimuka bumi merupakan titipan Tuhan, dan menjadi tanggung jawab bersama tanpa kecuali untuk ikut peduli melestarikan alam. Nilai-nilai spritualitas juga akan membawa manusia Indonesia menghargai prulalitas dalam masyarakat Indonesia.
Pendidikan yang baik memerlukan banyak faktor, siswa-siswi perlu nutrisi-otak dari bacaan yang berkualitas. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, mengalami problema dalam penyediaan fasilitas pendidikan. Keadaan wilayah negara yang terpisah-pisah, penduduk yang banyak dan kondisi sosial budaya yang beraneka ragam. Kondisi finansial masih belum mendukung dalam hal penyediaan kebutuhan buku, gedung-gedung perpustakaan, pusat-pusat informasi dapat bertambah, tersebar merata di seluruh daerah dan kepulaun di Indonesia. Perpustakaan, dan pusat-pusat informasi merupakan sarana untuk memenuhi hak warga negara mendapat ilmu dan pengetahuan yang dijamin oleh undang-undang.
Pengetahuan (knowledge) dibedakan dengan ilmu pengetahuan (science). Pengetahuan lebih luas dan memberi inspirasi bagi kaidah keilmuan. Pengetahuan dapat diartikan sebagai kondisi tahu, dan mengetahui akan sesuatu. Mengetahui dibentuk oleh pengalaman. Pengalaman seseorang akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Pengetahuan petani dan nelayan akan berbeda, begitu juga terhadap profesi lainnya. Kebudayaan akan membuat perbedaan pengetahuan makin melebar antara individu, kelompok dan bangsa. Namun yang pasti setiap orang memiliki pengetahuan dalam kadar tertentu. Keluasan pengetahuan seseorang akan ditentukan dengan interaksi antar kelompok. Teori pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebenarnya universal dan dapat dilakukan oleh masyarakat dan bangsa manapun. Gambaran sederhana mengenai pengetahuan dapat dilihat pada tabel di bawah.
| Subject of Knowledge | Knowledge Description | Science | Approaches |
| theoretical causes and principle | I know why the litmus- paper turn red | Natural science; chemist
| Rational-Empiric
|
| special skill | I know how to drive a car | Applied science | Rational-Empiric |
| scientific fact
| I know that Paris is the capital city of France | Social science : Sociology, Geography etc. | Rational-Empiric |
| state of mind | I know what it is to be hungry and poor
| Social Science : Psychology, economy Natural science ; biology | Rational-Empiric
|
Tabel : Bentuk Pengetahuan (Knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science). Adaptasi dari buku Mc Garry, Kevin. The Changing Context of Information [1993] hal 1. Dari tabel ini Nampak pengetahuan ‘Barat’ yang bersifat duniawi, perlu ditambahkan pengetahuan kepada spirtiualitas dengan pernyataan I Know why God created the Universe. Dengan pernyataan ini menunjukkan bahwa kehidupan alam semesta ada yang meciptakan, dan kita menjadi wajib memelihara dan tunduk kepada aturan pencipta.
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan. Asal muasal dari ilmu adalah pengetahuan yang berlangsung, dapat diamati dan dapat ditarik kesimpulan sehingga menjadi bukti ilmiah. Pusat-pusat dokumentasi dan informasi dapat mengembangkan koleksi apa yang akan diadakannya. Keilmuan yang bagaimanakah yang akan disuplai kepada masyarakat Indonesia. Di Indonesia, sepertinya pengetahuan masih mengambil posisi teratas dalam pengambilan keputusan, terutama bagi masyarakat awam (grass root). Contoh kasus pada peristiwa Erupsi Gunung Merapi (2010), penduduk ‘terbelah’ mengikuti pendapat wangsit (pengalaman batiniah) ketimbang percaya kepada ahli vulkanologi.
Fenomena ini adalah 'puncak gunung es', masyarakat mesti dikembalikan lagi kesadaran intelektualnya, banyak contoh lainnya dari masalah sepele, mulai dari masyarakat yang buang sampah sembarangan, larangan merokok yang malah tidak mampu mengurangi populasi perokok aktif, hingga pejabat negara yang melakukan korupsi berjamaah dari semua level dan tingkatan padahal lembaga resmi telah dibentuk (KPK, Satgas Mafia Hukum, dsb) ditambah lagi beratnya sangsi hukum. Aspek yang tidak kalah penting yaitu: internalisasi keilmuan yang belum maksimal, belum dicerna secara baik. Masyarakat kita seakan memainkan dua peranan (hipokrit) menerima ilmu dan tata aturan baku, untuk kemudian dilanggar dan dilupakan. Masalah internalisasi keilmuan tentu akan berkenaan dengan kaidah bahasa dan kalimat yang digunakan. Kita mesti memikirkan ulang dan memberi tempat yang luas terhadap nilai-nilai spiritual untuk lebih melunakkan sikap dan kelakuan buruk manusia Indonesia. Nilai-nilai ini telah mengalami degradasi dalam sanubari penerus bangsa kita.
Jika ditilik lewat sejarah fungsi agama di Barat (Eropa-Amerika) coba dimarjinalkan dari kehidupan publik. Spiritualitas dengan bahasa lain merupakan mutiara dari ajaran agama-agama. Sebagai bangsa yang mengakui adanya Tuhan (termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila), sudah semestinya negara ini menjadi pelopor untuk kembali mendengungkan tema-tema spiritual. Pendekatan spiritulitas-keagamaan dapat dijadikan ciri khas bagi setiap teori. Kerusakan di muka bumi ini telah berlangsung dan menghasilkan residu yang tidak akan mudah direhabilitasi, termasuk juga terhadap mental manusianya. Tema-tema spiritual ini bisa diupayakan berkelindan dengan ilmu dan pengetahuan, sehingga menghasilkan manusia yang seimbang antara otak dan nuraninya.
Pusat Informasi dan Masyarakat : Aplikasi Perpustakaan Sebagai ‘Life Long Education’
Dahulu ketika manusia belum mengenal apa itu tulisan, dengan segenap usahanya memungut berkah alam, menuliskan aktifitasnya di dinding gua, atau pada medium dedaunan, tulang belulang dan kulit binatang. Sejarah kemudian mencatatkan prestasi gemilang anak manusia, ketika telah ditemukannya kertas. Kesadaran terhadap amanah ilmiah semakin tumbuh sehingga artefak tersebut kemudian disimpan, disalin hingga menjadi media yang dikenal sebagai perpustakaan, museum dan lembaga infomarsi lainnya.
Saat ini tidak semua orang beruntung mendapatkan buku, persoalannya harga buku tidak murah. Orang membaca dan menjadi keranjingan terhadap sumber bacaan bisa saja terjadi, namun akan berbeda dengan kemampuan daya beli. Masyarakat yang masih lapar (pra-sejahtera) amat logis jika hanya memenuhi kebutuhan perut. Buku-buku juga semakin tak terjamah masyarakat miskin, karena letaknya di sekolah-sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Akses memperoleh pendidikan juga butuh perjuangan, karena mesti mengeluarkan biaya besar. Perpustakaan sebagai salah satu pusat dokumentasi dan informasi melalui instansi sejawat yaitu perpustakaan umum, dapat menyediakan koleksi yang memungkinkan masyarakat belajar secara otodidak. Masyarakat dapat disediakan bacaan bertema wirausaha untuk mengembangkan ide-ide usaha. Tidak hanya itu pada momen tertentu dapat membuat acara diskusi secara berkelanjutan dengan menghadirkan pembicara dan pendapingan dari kalangan entrepreneur.
Khusus mengenai kearifan lokal yang dapat disumbangkan sebagai pemikiran yaitu melibatkan kekuatan-kekuatan pemerintah dalam bidang teknologi-informasi, pendidikan-kebudayaan untuk merubah pola berpikir (mind-setting) masyarakat terhadap alam, dan relasi antar umat manusia. Sebagai masyarakat religius, pemikiran ilmiah tidak hanya berdasarkan rasional-empirik saja, akan tetapi rasional-empirik teistik. Pemikiran teistik sejatinya merupakan ciri khas bangsa kita. Hedonisme dan paham sukses instan adalah sesuatu yang salah, akibatnya banyak orang --terutama kalangan muda-- yang pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan dan kekayaan.
Perpustakaan sebagai tempat menyimpan dokumen karena alasan finansial kadang tidak dapat difasilitasi kelengkapannya ini terjadi di sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Sedangkan di perguruan tinggi, nasib perpustakaan umumnya lebih baik saat ini, meliputi ruangan dan koleksi . Kesenjangan informasi ini perlu dijembatani, temuan ilmiah tepat guna dapat terinformasikan kepada masyarakat luas. Temuan ilmiah dari para mahasiswa dan dosen dapat disebarkan melalui perpustakaan umum atau perputakaan khusus. Atau sebaliknya masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan dan pusat informasi untuk bertanya dan usul, pertanyaan tersebut dapat dijadikan bank data, dan persoalan tersebut dikembalikan untuk dikaji oleh kalangan terdidik di perpguruan tinggi. Dengan cara demikian masyarakat tidak kesulitan mendapat sumber bacaan untuk belajar dan pengembangan diri, serta pemecahan masalah (problem solving).
ã Oleh : M.Sukron artikel untuk Sayembara “Andai Saya Menjadi Seorang Anggota DPD RI tahun 2011
[1] Spiritualitas tidak dapat berdiri tegak di atas sokongan iman, muara keimanan adalah selalu memberikan yang terbaik kepada umat manusia melintas batas. Pemikiran ini dikarenakan bahwa manusia sebagai partner alam dan sebaliknya. Keburukan yang diberi kepada alam akan dibalas dengan kesulitan dan nestapa bagi umat manusia. Global warming (pemanasan global), lumpur lapindo di Surabaya, lapisan ozon yang robek, bencana Chernobyl di Rusia adalah residu dari pembangunan berbasis teknologi yang salah kaprah. Lihat pembahasan pendekatan ilmiah dalam: Cecep Sumarna. Rekonstruksi Ilmu.. Bandung : Benang Merah Press, 2005. Keilmuan fisika, dalam fisika quantum memberikan dalil baru bahwa dunia fisika terdeviasi seolah menjadi metafisika. Metafisika menunjukkan kepada keadaan yang serba tidak dapat diprediksi tidak dapat dihitung dan diperkirakan secara matematika. Dari sini kembali manusia dihadapkan kepada sesuatu yang mutlak, yang maha kuasa, yang mengatur alam semesta. Lihat : Wospakrik, Hans J. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta : KPG 2005 hal.172.
* Sama halnya dengan demokrasi, paham demokrasi menjamin orang bebas berbicara (freedom of speak), berkeyakinan (freedom of choice in religion), dan kebebasan berbuat (freedom of act). Demokrasi telah dilaksanakan dengan penyesuaian ala Indonesia. Prosesi pemilihan umum (Pemilu) pemilihan kepala daerah (pilkada) yang masih belum mentaati aturan demokrasi, untuk fair dalam berkampanye, untuk siap kalah dan tidak anarkis, dan mau mengakui kemenangan pihak lain. Masih banyak contoh lain yang diperlukan kedewasaan dalam belajar berdemokrasi. Begitu pula dengan mengerti dan memahami fungsi Pusat Informasiuntuk mencerdaskan bangsa. Pusat Informasididirikan (sesuai jenisnya) untuk digunakan oleh setiap warga negara tanpa memandang status sosial, jabatan, agama, dan ras. Ketika sesorang membaca memerlukan situasi yang kondusif dan kudus, kewajiban pemustaka untuk saling menghormati privasi orang lain.
No comments:
Post a Comment