Saturday, May 28, 2011

Unifikasi Kekuatan Sekolah Negeri dan Swasta

Learning to know, learning to do,

learning to be , learning to life together (UNESCO)

Sekolah merupakan wahana untuk belajar dan mentransfer ilmu pengetahuan. Sekolah negeri sejak dahulu menjadi pilihan masyarakat. Orang tua kebanyakan akan memilih sekolah negeri, sekolah ideal dimata orang tua tidak lain tidak bukan sekolah negeri. Bahkan pengalaman pribadi penulis, jika sampai bersekolah di swasta adalah pertanda buruk, akan disebut anak bodoh yang tidak becus dengan urusan belajar. Sekolah swasta adalah tempat yang pantas untuk penampungan akhir bagi orang yang malas belajar. Di penghujung awal 80-an sekolah dasar negeri di Jakarta rata-rata kelebihan murid, maka dikenalah sekolah sore (petang) untuk menampung antusiasme bersekolah di sekolah negeri.

Entahlah, bagaimanakah sekolah swasta dipersepsi demikian negatif, padahal ada beberapa sekolah swasta dengan kualitas amat baik. Kemungkinan lain sekolah swasta kurang disukai lantaran biaya SPP yang terbilang mahal. Kondisi ini logis, sekolah swasta yang dikelola yayasan akan mengeluarkan dana guna melengkapi fasilitas, mulai dari laboratorium, hingga kelengkapan perpustakaan. Dana ini akan terus membengkak yang kemudian juga, serta merta dananya diambil dari iuran murid. Upaya untuk berkhidmat demi masyarakat ekonomi lemah yaitu dengan biaya murah, banyak sekolah swasta yang mencoba bertahan tanpa fasilitas-fasilitas. Walhasil sekolah swasta malah menjadi bulan-bulanan sumpah serapah karena kualitas bangunan yang seadanya. Pada akhirnya sekolah swasta tersebut menjadi sepi peminat, atau dianggap remeh sebagai sekolah yang tidak berprestasi.

Penjelasan pendahuluan di atas menjelaskan mengenai kualitas sekolah negeri dan swasta dua dekade yang lewat, dan berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Sekolah swasta juga dikenal sebagai sekolah mahal juga karena sebab-sebab tertentu. Secara kentara, sekolah swasta dan sekolah negeri dapat dilihat pada diagram berikut :

Item Pembanding Sekolah Negeri Sekolah Swasta
Kepemilikan Pemerintah

Milik swasta, individu, Yayasan/Kelompok tertentu
Sumber dana Dana Negera (APBN, APBD) Dana Yayasan, Perorangan
Status guru Pegawai Negeri Sipil/PNS didominasi Guru non-PNS
Kurikulum Standard pemerintah

(siklus repelita)

Kurikulum pemerintah, Kurikulum Intern sekolah
Tipologi Siswa Beragam (heterogen), meliputi suku, ras, agama dan golongan Dominan homogen; Agama, Ras dan Golongan tertentu

Masih hangat dalam ingatan kita, situasi nyata sekolah di persada Indonesia abad ini, kurang lebih lima tahunan lewat. Wakil presiden Yusuf Kalla (th. 2009) pernah tersinggung ketika ada seorang guru yang berpuisi dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Puisi yang dibacakan menyebut sekolah di Indonesia diibaratkan seperti ‘kandang ayam’. Berita-berita sekolah reyot dan hampir rubuh kerap dikabarkan, hal ini terjadi pada sekolah-sekolah negeri ataupun swasta di pelosok daerah. Puisi tersebut tidak lain sebagai bentuk kritik dan akumulasi dari keadaan di lapangan bahwa sekolah-sekolah tidak diperhatikan, meskipun dananya telah ditambah dalam APBN.

Secara fisik sekolah sekolah di Indonesia, tanpa pandang bulu masih perlu diperbaiki, lalu bagaimana dengan kualitas non-material. Sisi ini akan menjadi perdebatan panjang, lihatlah sekarang betapa sekolah menjadi beban bagi anak-anak. Pelajaran sudah semakin sulit, bahkan tas yang dibawa oleh anak seumuran SD kelas lima telah melebihi kapasitas berat tubuhnya. Sekolah swasta bahkan lebih hebat lagi, bahasa pengantar yang digunakan sudah bilingual. Sekolah juga seakan-akan tidak cukup memberi pelajaran, sehingga lembaga-lembaga kursus tumbuh subur hingga akhirnya setelah pulang sekolah dalam semua tingkatan, dan bagi yang mampu, akan kembali belajar di lembaga-lembaga kursus yang tumbuh subur di kota-kota besar.

Penulis coba jabarkan data dari tabel di atas, terutama pada keterangan yang dicetak miring yang menurut hemat penulis akan menjadi kekuatan dari masing-masing baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Sekolah negeri memiliki murid dengan latar belakang yang berbeda sehingga sekolah dapat dijadikan tempat persemaian rasa tasamuh (saling menghargai). Kelas-kelas dapat disebut sebagai melting-pot, bercampurnya dan meleburnya perasaan dan pengalaman. Siswa yang non muslim tentu akan mersakan suasana orang yang berpuasa karena pada bulan Ramadhan mereka akan sedikit lebih sulit untuk sekedar sarapan, dan makan siang. Begitupun sebaliknya, murid yang muslim akan mengetahui dan belajar respek kepada murid yang lain yang sedang merayakan kegiatan atau ibadah agama lain; entah ketika tidak ada dikelas (mengikuti kebaktian, Natal, Waisak dan lain sebagainya). Sekolah negeri dengan modal heterogenitas ini dapat dijadikan tempat bersemainya rasa persaudaraan dan persatuan sebagai bangsa.

Persoalan kurikulum ini (lihat tabel) yang menjadikan sekolah memiliki daya kreativitas dan inovasi lebih ketimbang sekolah negeri. Hal-hal baru dalam dunia pendidikan lebih mudah diterapkan pada sekolah swasta karena faktor penghambat lebih kecil. Faktor penghambat ini misalnya kebijakan di sekolah negeri yang mesti diwacanakan, disetujui sebelum disahkan oleh negera dengan proses panjang. Sekolah swasta dengan kelebihannya ini dapat dengan mudah menerapkan temuan ilmiah baru dalam dunia pendidikan. Kurikulum yang lebih fleksibel termasuk penggabungan isi materi terbaru, sehingga kurikulum sekolah swasta lebih aspiratif dan memenuhi kebutuhan murid sesuai waktu (up to date). Kini sekolah yang dikelola oleh yayasan swasta lebih banyak dibangun dan lebih berani bermimpi. Sekolah terpadu, sekolah alam, sekolah internasional telah tersemat pada nama-nama sekolah mulai dari TK hinga SMA. Belum lagi bahasa pengantar yang digunakan berupa bahasa asing bahasa Inggris, Bahasa Arab, ataupun Mandarin. Untuk itu diperlukan unifikasi agung, antara kelebihan yang terdapat baik di sekolah negeri ataupun swasta sehingga sekolah di Indonesia bisa berkualitas dan dapat diakses oleh siapa saja dengan biaya terjangkau, semoga.

22/05/11/11 wib/sbt

No comments: