“dan bahkan firman Tuhan-pun disebut buku”
...[Kuntowidjoyo]
Pendahuluan
Pengaruh spiritualitas[1] kembali menjadi wacana untuk menjawab problematika sosial masyarakat. Abad ini telah identik dengan jaman teknologi dan inovasi. Teknologi dan spiritualitas keduanya dapat dilihat dan dianalisa sebagai sesuatu yang bersesuaian, dan juga bisa bertolak belakang. Dengan teknologi, manusia mampu membangun gedung-gedung, peralatan yang dapat memudahkan manusia untuk hidup, berpindah dan berekreasi. Di sisi lain, data-data terbaru menjelaskan kondisi hutan, laut, sungai telah rusak atau cuaca ekstrim yang tidak bersahabat. Lebih jauh, sistem tata surya seolah mengancam keberadaan bumi sekaligus makhluk di dalamnya. Heboh film kiamat 2012, membuat keresahan pada umat manusia akan eksistensi dirinya, karena teknologi tidak bisa memberi solusi. Bagi orang yang beragama tentu akan berupaya mempersiapkan kehidupan dan melakukan setiap pekerjaan sebagai amal ibadah dan memasrahkan diri kepada sang pencipta.
Perpustakaan adalah salah satu temuan manusia. Perpustakaan menjadi tanda kemoderenan, difungsikan sebagai tempat menyimpan hasil karya manusia bersifat non-profit. Perpustakaan melayani pemakai, dengan kegiatan utama pengadaan, pengolahan dan layanan sirkulasi. Masyarakat secara luas belum merasakan manfaat langsung dari keberadaan perpustakaan. Kemiskinan dan pengangguran masih terbilang tinggi, akses kepada pendidikan terbilang mahal dan belum merata. Kondisi kurang beruntung akhirnya berujung pada meningkatnya penyakit sosial. Masyarakat menjadi mudah apatis kepada pemimpinnya. Sementara itu orang terdidiknya menjadi semacam ‘pertapa’ yang mengasingkan diri, sehingga menjadi keyakinan umum bahwa semua cuma teori, berbeda dengan realita. Uniknya teori-teori ilmiah tersebut terdapat dalam buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan.
Tidak bisa diabaikan bahwa kesadaran kita sebagai satu bangsa, dan satu golongan manusia, tidak dapat tumbuh dan hidup secara terpisah. Perpustakaan bagaimanapun keadaannya adalah anugerah. Jika belum baik, maka menjadi kewajiban kita dan siapapun anda untuk membantu dan memberdayakan perpustakaan. Kesadaran ini mesti dibangun oleh Perpustakaan Nasional. Spirit untuk menjadi masyarakat bermartabat dapat disampaikan oleh media perpustakaan. Tanpa disadari perpustakaan adalah kekuatan tersembunyi yang belum dioptimalkan. Perpustakaan Nasional dapat dijadikan spirit perubahan Indonesia, dan kekayaan koleksinya dapat dimanfaatkan secara luas (massive) baik di dalam negeri maupun di dunia internasional.
Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan : Keadaan Sosial Budaya
Perpustakaan merupakan rumah pengetahuan, terkandung suatu sistem nilai.* Perpustakaan mempunyai nilai-nilai luhur untuk memajukan bangsa. Kemajuan suatu bangsa dipikul oleh sumber daya manusia yang tidak cukup bermodal kejujuran, tetapi juga unggul kecakapan-intelektual dari pendidikannya. Dengan pendidikan diharapkan seseorang dapat lebih kreatif dan inovatif. Manusia unggul juga mesti memiliki kecerdasan spiritual. Dengan nilai-nilai spiritual diharapkan seseorang menjadi terkontrol emosinya, berjiwa sosial, menjadikan hidup sebagai ibadah. Manifestasi lain dari penjabaran nilai-nilai spiritual; menjadikan seseorang peduli sesama, peduli lingkungan karena seluruh yang ada dimuka bumi merupakan titipan Tuhan, dan menjadi tanggung jawab bersama tanpa kecuali untuk ikut peduli melestarikan alam.
Pendidikan yang baik memerlukan banyak faktor, siswa-siswi perlu nutrisi-otak dari bacaan yang berkualitas. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, mengalami problema dalam penyediaan fasilitas pendidikan. Luas wilayah negara yang terpisah-pisah, penduduk yang banyak dan kondisi sosial budaya yang beraneka ragam. Kondisi finansial masih belum mendukung dalam hal penyediaan kebutuhan buku, gedung-gedung perpustakaan, pusat-pusat informasi dapat tersebar merata di seluruh daerah dan kepulaun di Indonesia. Perpustakaan, dan pusat-pusat informasi merupakan sarana untuk memenuhi hak warga negara mendapat ilmu dan pengetahuan yang dijamin oleh undang-undang.
Pengetahuan (knowledge) dibedakan dengan ilmu pengetahuan (science). Pengetahuan lebih luas dan memberi inspirasi bagi kaidah keilmuan. Pengetahuan dapat diartikan sebagai kondisi tahu, dan mengetahui akan sesuatu. Mengetahui dibentuk oleh pengalaman. Pengalaman seseorang akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Pengetahuan petani dan nelayan akan berbeda, begitu juga terhadap profesi lainnya. Kebudayaan akan membuat perbedaan pengetahuan makin melebar antara individu, kelompok dan bangsa. Namun yang pasti setiap orang memiliki pengetahuan dalam kadar tertentu. Keluasan pengetahuan seseorang akan ditentukan dengan interaksi antar kelompok. Teori pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebenarnya universal dan dapat dilakukan oleh masyarakat dan bangsa manapun. Gambaran sederhana mengenai pengetahuan dapat dilihat pada tabel di bawah.
|
Subject of Knowledge
|
Knowledge Description |
Science |
| · theoretical causes and principles · special skill
· scientific fact
· state of mind. | · I know why the litmus- paper turn red
· I know how to drive a car
· I know that Paris is the capital city of France
· I know what it is to be hungry and poor
| · Natural science; chemist
· Applied science
· Social science : Sociology, Geography etc. · Social Science : Psychology, economy Natural science ; biology |
Tabel : Bentuk Pengetahuan (Knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science)[2]
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan. Asal muasal dari ilmu adalah pengetahuan yang berlangsung, dapat diamati dan dapat ditarik kesimpulan sehingga menjadi bukti ilmiah. Perpustakaan nasional dapat mengembangkan koleksi apa yang akan diadakannya. Keilmuan yang bagaimanakah yang akan disuplai kepada masyarakat Indonesia. Di Indonesia sepertinya pengetahuan masih mengambil posisi teratas dalam pengambilan keputusan, terutama bagi masyarakat awam (grass root). Contoh kasus pada peristiwa Erupsi Gunung Merapi (2010), penduduk ‘terbelah’ mengikuti pendapat Mbah Maridjan (wangsit, pengalaman batiniah) ketimbang percaya kepada ahli vulkanologi.
Fenomena ini adalah puncak gunung-es, masih banyak contoh lainnya dari masalah sepele mulai dari masyarakat yang buang sampah sembarangan, larangan merokok yang malah tidak mampu mengurangi populasi perokok aktif, hingga pejabat negara yang melakukan korupsi berjamaah dari semua level dan tingkatan meskipun lembaga resmi telah dibentuk (KPK, Satgas Mafia Hukum, dsb) dan beratnya sangsi hukum. Aspek yang tidak kalah penting yaitu: internalisasi keilmuan juga belum maksimal dan tidak dapat dicerna secara baik. Masyarakat kita seakan memainkan dua peranan (hipokrit) menerima ilmu dan tata aturan, untuk kemudian dilanggar dan dilupakan.
Masalah internalisasi keilmuan tentu akan berkenaan dengan kaidah bahasa dan kalimat yang digunakan. Kita mesti memikirkan ulang dan memberi tempat yang luas terhadap nilai-nilai spiritual. Jika ditilik lewat sejarah fungsi agama di Barat (Eropa-Amerika) coba dimarjinalkan dari kehidupan publik. Spiritualitas dengan bahasa lain merupakan mutiara dari ajaran agama-agama. Sebagai bangsa yang mengakui adanya Tuhan (termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila), sudah semestinya negara ini menjadi pelopor untuk kembali mendengungkan tema-tema spiritual. Pendekatan spiritulitas-keagamaan dapat dijadikan ciri khas bagi setiap teori. Kerusakan di muka bumi ini telah berlangsung dan menghasilkan residu yang tidak akan mudah direhabilitasi, termasuk juga terhadap mental manusianya. Tema-tema spiritual ini bisa diupayakan berkelindan dengan ilmu dan pengetahuan, sehingga menghasilkan manusia yang seimbang antara otak dan nuraninya.
Berderma untuk Masyarakat, Berderma untuk Semua
Perpustakaan menciptakan masyarakat, dan masyarakat menciptakan perpustakaan. Dahulu ketika manusia belum mengenal apa itu tulisan, dengan segenap usahanya memungut berkah alam, menuliskan aktifitasnya di dinding gua, atau pada medium dedaunan, tulang belulang dan kulit binatang. Sejarah kemudian mencatatkan prestasi gemilang anak manusia, ketika telah ditemukannya kertas. Kesadaran terhadap amanah ilmiah semakin tumbuh sehingga artefak tersebut kemudian disimpan, disalin hingga menjadi media yang dikenal sebagai perpustakaan.
Saat ini tidak semua orang beruntung mendapatkan buku, persoalannya harga buku tidak murah. Orang membaca dan menjadi keranjingan terhadap sumber bacaan bisa saja terjadi, namun akan berbeda dengan kemampuan daya beli. Masyarakat yang masih lapar (pra-sejahtera) amat logis jika hanya memenuhi kebutuhan perut. Buku-buku juga semakin tak terjamah masyarakat miskin, karena letaknya di sekolah-sekolah, dari sekolah dasar hingga Perguruan tinggi. Akses memperoleh pendidikan juga butuh perjuangan, karena mesti mengeluarkan biaya. Perpusnas melalui instansi sejawat yaitu perpustakaan umum, dapat menyediakan koleksi yang memungkinkan masyarakat belajar secara otodidak. Masyarakat dapat disediakan bacaan bertema wirausaha untuk mengembangkan ide-ide usaha. Tidak hanya itu pada momen tertentu dapat membuat acara diskusi dengan menghadirkan pembicara dari kalangan entrepreneur.
Perpustakaan sebagai tempat menyimpan dokumen karena alasan finansial kadang tidak dapat difasilitasi kelengkapannya. Masalah yang tak berkesudahan, di sekolah-sekolah dasar hingga menengah koleksi perpustakaannya masih didominasi oleh buku paket. Buku paket juga sering bermasalah karena hanya diperbaharui cover-nya, sedangkan isinya sama saja. Sedangkan di Perguruan Tinggi nasib perpustakaan umumnya lebih baik saat ini, meliputi ruangan dan koleksi yang diadakan namun belum dikelola, menjembatani temuan ilmiah tepat guna kepada masyarakat umum. Ruang lingkup perpustakaan dapat diperluas jenisnya. Cara yang dapat dikembangkan yaitu dengan memperkenalkan perpustakaan komunitas baik lingkup pribadi, rukun tetangga-rukun warga (RT/RW). Dengan cara demikian masyarakat tidak kesulitan mendapat sumber bacaan. Perpusnas dapat melakukan sosialisasi bahwa membuat perpustakan itu mudah, bisa dimana saja, oleh siapa saja, selain tetap konsisten beriklan tentang pentingnya kunjungan perpustakaan, atau anjuran untuk membaca sepanjang hayat.
Kekoleksian perpustakaan nasional diharapkan menyesuaikan terhadap situasi nasional dan global. Tidak hanya membeli buku, akan tetapi mampu mereproduksi terbitan sendiri. Naskah bisa didapat dari perlombaan penulisan dalam bentuk fiksi dan non-fiksi. Program ini memberikan peluang dan mendorong kreativitas masyarakat dengan kesempatan penerbitan. Indonesia telah cukup dikenal melalui seni budaya, budaya yang telah dikemas adalah kesenian (tarian, lagu daerah, dan kuliner). Indonesia masih punya beragam bahasa daerah, temuan teknologi tepat-guna yang ramah lingkungan, selain itu juga kita memiliki tanaman berkhasiat obat (herbal dan jamu-jamuan) yang belum ditulis dan diteliti secara serius.
Perpustakaan Nasional perlu membangun pendekatan lain dengan masyarakat untuk menginformasikan segala kegiatannya. Jika beriklan di koran atau majalah terlampau mahal cost-nya, Perpusnas dapat membuat buletin sebagai sarana komunikasi kepada masyarakat dan isinya tidak hanya mengenai pustakawan dan perpustakaan. Buletin berisi konten yang bersumber dari kekayaan koleksi Perpustakaan Nasional. Kekerapan musibah yang melanda Indonesia mulai dari banjir, gempa dan tsunami dapat dijadikan tema ulasan. Validitas data yang akurat tentu bagian pekerjaan lembaga lain (BMKG, dsb), akan tetapi kesegeraan (awareness) informasi dapat dilakukan sebagai upaya preventif membentuk kepekaan masyarakat terhadap bencana. Informasi lainnya dapat diseleksi dari tema yang tengah berlangsung dan menjadi problema masyarakat. Problem dunia, seperti pemanasan global (global warming), dan perubahan cuaca (climate change) dapat diinformasikan kepada masyarakat dengan tidak melupakan sisi lokalitas, sehingga informasi mudah dicerna dan dipahami.
Perpustakaan nasional juga dapat berinteraksi lebih dekat dengan para penerbit dengan mengadakan bedah buku, memberikan quote, review, dan sari karangan untuk buku-buku yang akan diterbitkan. Kewajiban serah terima (deposit) koleksi akan lebih diterima oleh pihak penerbit karena ulasan (review, quote, dan sari karangan) dari pihak Perpusnas akan memberikan nilai lebih. Buku-buku Indonesia yang dinilai layak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa asing, sehingga karya-karya anak bangsa dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Penulis yakin bahwa Perpusnas dapat melakukannya karena telah memiliki website yang di dalamnya telah diisi dengan konten berciri khas Indonesia. Tidak berlebihan kiranya melalui website ini juga dapat diketengahkan buku-buku anak bangsa berikut review dan ulasannya.
Khusus mengenai kearifan lokal yang dapat disumbangkan sebagai pemikiran dunia yaitu untuk merubah pola berpikir (mind-setting) terhadap alam, dan relasi antar umat manusia. Sebagai masyarakat religius, pemikiran ilmiah tidak hanya berdasarkan rasional-empirik saja, akan tetapi rasional-empirik teistik. Istilah filsafat yang terkenal yaitu ‘aku berpikir maka aku ada’ (Rene Deskartes) sebagaimana dikatakan Komaruddin Hidayat, pendapat ini perlu dikritisi karena mengandung pemikiran egois dan angkuh. Pernyataan orang yang mengakui adanya Tuhan adalah ‘aku beriman maka aku ada’. Orang yang memiliki keyakinan agama juga dapat memberikan solusi terhadap problem sosial kekinian. Perpusnas dapat mengembangkan isu kesadaran spiritual agar nilai-nilai ketuhanan (teistik) yang terdapat dalam ajaran agama dapat ditulis dalam aneka pemikiran eksakta, dan sosial humaniora. Upaya mulia ini untuk memperjelas basis pemikiran masyarakat Indonesia yang menerima segala macam pandangan, namun tetap memiliki pemikiran mandiri berciri khas empirik-rasional teistik.
Daftar Bacaan
Hidayat, Komaruddin. Psikologi Ibadah : Menyibak Arti Menjadi Hamba dan Mitra Allah di Bumi. Jakarta : Serambi, 2008
Mc Garry, Kevin. The Changing Context of Information: an Introductory Analysis. 2n.ed . London : Library Association Press, 1993
Sumarna, Cecep. Rekonstruksi Ilmu: dari Empirik-Rasional Ateistik ke Empirik-Rasional Teistik. Bandung : Benang Merah Press, 2005
Wospakrik, Hans J. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta : KPG, 2005
ã Oleh : M.Sukron (No. Peserta : 063/SKT/MS/511), artikel untuk Sayembara dalam rangka peningkatan peran dan fungsi Perpustakaan Nasional RI tahun 2010.
[1] Spiritualitas tidak dapat berdiri tegak di atas sokongan iman, muara keimanan adalah selalu memberikan yang terbaik kepada umat manusia melintas batas. Pemikiran ini dikarenakan bahwa manusia sebagai partner alam dan sebaliknya. Keburukan yang diberi kepada alam akan dibalas dengan kesulitan dan nestapa bagi umat manusia. Global warming (pemanasan global), lumpur lapindo di Surabaya, lapisan ozon yang robek, bencana Chernobyl di Rusia adalah residu dari pembangunan berbasis teknologi yang salah kaprah. Lihat pembahasan pendekatan ilmiah dalam: Cecep Sumarna. Rekonstruksi Ilmu.. Bandung : Benang Merah Press, 2005. Keilmuan fisika, dalam fisika quantum memberikan dalil baru bahwa dunia fisika terdeviasi seolah menjadi metafisika. Metafisika menunjukkan kepada keadaan yang serba tidak dapat diprediksi tidak dapat dihitung dan diperkirakan secara matematika. Dari sini kembali manusia dihadapkan kepada sesuatu yang mutlak, yang maha kuasa, yang mengatur alam semesta. Lihat : Wospakrik, Hans J. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta : KPG 2005 hal.172.
* Sama halnya dengan demokrasi, paham demokrasi menjamin orang bebas berbicara (freedom of speak), berkeyakinan (freedom of choice in religion), dan kebebasan berbuat (freedom of act). Demokrasi telah dilaksanakan dengan penyesuaian ala Indonesia. Prosesi pemilihan umum (Pemilu) pemilihan kepala daerah (pilkada) yang masih belum mentaati aturan demokrasi, untuk fair dalam berkampanye, untuk siap kalah dan tidak anarkis, dan mau mengakui kemenangan pihak lain. Masih banyak contoh lain yang diperlukan kedewasaan dalam belajar berdemokrasi. Begitu pula dengan mengerti dan memahami fungsi perpustakaan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan didirikan (sesuai jenisnya) untuk digunakan oleh setiap warga negara tanpa memandang status sosial, jabatan, agama, dan ras. Ketika sesorang membaca memerlukan situasi yang kondusif dan kudus, kewajiban pemustaka untuk saling menghormati privasi orang lain.
[2] Adaptasi dari buku Mc Garry, Kevin. The Changing Context of Information [1993] hal 1. Dari tabel ini nampak pengetahuan ‘Barat’ yang bersifat duniawi, perlu ditambahkan pengetahuan kepada spirtiualitas dengan pernyataan I Know why God created the Universe. Dengan pernyataan ini menunjukkan bahwa kehidupan alam semesta ada yang meciptakan, dan kita menjadi wajib memelihara dan tunduk kepada aturan pencipta.
No comments:
Post a Comment