Monday, February 29, 2016

Masukan Penelitian



Catatan Kepesertaan Desain Operasional
Penelitian Rumah Ibadah Bersejarah
Balai Litbang dan Diklat Kemenag RI
Senin: 29 Pebruari 2016
Tempat : Grand Cemara Hotel, Gondangdia

Meneruskan pendapat Ibu Nurrahma (peserta/peneliti) terkait pesan-pesan yang perlu disampaikan berkorelasi kepada renstra kemenag RI. Tidak jauh informasi yang dapat disampaikan masih menjadi domain Bimas Islam mislanya dengan arah kiblat dan berkenaan dengan rumah ibadah umat Islam yaitu masjid dan derivasinya.
Masjid Agung Demak, konon diukur arah kiblatnya langsung oleh Waliyullah, Sunan Kalijaga. Menurut informasi yang sahih dari seorang ahli yang menangani arah Kiblat disebutkan bahwa arah kiblat Masjid Agung Demak perlu diubah karena tidak menghadap kiblat sesungguhnya (12 derajat) ke arah Ethiopia-Afrika. Tulisan ini bukan untuk membahas benar salah, melainkan melihat kondisi apa adanya. Kondisi geografis dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama adalah kejadian gempa, atau pergerakan lapisan kulit bumi yang teratur, hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi pergeseran arah kiblat, tidak hanya satu masjid, tetapi banyak masjid di seluruh dunia, termasuk masjid-masjid di Nusantara.
Deklinasi arah ini tentu menjadi lumrah, hitungan ilmu falak mengenai arah kiblat tentu telah menggunakan suatu hitungan dan prinsip-prinsip ilmiah. Kekurangan ini juga bisa terjadi ketika proses pembuatan masjid yang keadaan situasinya demikian adanya sehingga dilakukan perubahan secara alamiah, akhirnya meletakkan mihrab tidak pada perhitungan semula. Dengan penelitian ini, tentu memilih masjid yang akan diteliti dapat juga mencatat satu bagian/paragraf atau kalimat mengenai arah kiblat, apa adanya. Hal ini mungkin diperlukan untuk kalangan peneliti selanjutnya, apakah ada rataan hitung dalam deklinasi tersebut yang teratur, atau seragam skalanya sehingga dapat ditarik kesimpulan hitungan awal (pertama) telah mendekati arah kiblat hakikat, tetapi karena dipengaruhi faktor gempa, maka terjadi deklinasi. Sebaliknya jika tidak seragam (sudut deklinasi berbeda-beda) yang terjadi maka kemungkinan tradisi ilmu falak belum diterapkan sempurna. Jika hal ini dilakukan setidaknya menjadi bagian kecil dari baik sangka (husn al-dzann) dari para Ulama Nusantara terdahulu bahwa mereka menggunakan juga metode ilmiah.

Demikian sedikit masukan dari peserta , wallahu a’lam
M.Sukron/Kemenag Jak Pus

No comments: